Apartemen Lee ~ Part 7 / FINAL



Title: Apartemen Lee

Author: Icha

Type: Chapter

Genre: Romance

Rating: T

My site :

http://allsynopsislook.wordpress.com/

http://allfanfictionlook.wordpress.com/

My Twitter : @icaque

Sebelumnya :

[Teaser] [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4] [Part 5] [Part 6]

Cast :

Park Jiyeon as Jiyeon

Im Jae Bum as Jae Bum / Jason

Additional Cast :

Tina Jeetaleela (Artis Thailand) as Tina (Tetangga di Apartemen Lee)

Wooyoung as Wooyoung (Kakak Tiri Tina)

Mario Maurer (Artis Thailand) as Mario

Yoon Eun Hye as Eun Hye (Tetangga di Apartemen Lee)

Kang Ji Hwan as Ji Hwan (Suami Eun Hye)

Lee Ji Eun as IU (Adik tiri Ji Hwan)

Etc

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

All Author P.O.V

 Jae Bum memberhentikan mobilnya tepat di depan apartemen Lee. Apartemen itu sudah banyak berubah. Semoga saja para penghuni di dalamnya tidak ada yang berubah. Masih ada Tina dengan kakaknya, Wooyoung; pasangan suami istri bahagia yaitu Ji-Hwan dan Eun Hye, yang kalau dipikir-pikir sebentar lagi mungkin Eun Hye akan melahirkan anak pertamanya; lalu…Jiyeon, ia sangat berharap bahwa yeoja itu masih tinggal di dalam apartemen ini. Alasan ia kembali memang bukan untuk menemui yeoja itu. Kali ini ia datang kembali ke Kyoto, Jepang karena untuk urusan pekerjaan. Ia sedang sibuk-sibuknya mempromosikan drama terbarunya yang akan diadakan dalam jumpa pers pada lusa nanti. Sebelum itu, ia berencana untuk pergi ke Osaka untuk berkunjung ke apartemen Lee. Ia rindu dengan para penghuni apartemen, terutama kepada Jiyeon.

            “Jae Bum-ssi?” Sebuah suara memanggilnya. Ia menoleh dan mendapati Mr. Lee sedang kerepotan menopang beberapa bonggol kayu di atas bahunya. Jae Bum segera menghampirinya dan langsung membantu Mr. Lee membawakan kayu-kayu tersebut. “Sudah lama tidak bertemu dan kau semakin tampan saja.”

            Jae Bum mengangguk hormat sambil tersenyum.

            “Ayo masuk ke dalam,” kata Mr. Lee sambil meletakkan kayu-kayu tersebut di halaman apartemennya. “Letakkan disini saja.”

            Jae Bum segera menyusul Mr. Lee ke dalam setelah meletakkan kayu-kayu tersebut. Udara di dalam apartemen ini membuat Jae Bum langsung teringat akan masa lalu saat dimana ia masih tinggal di dalam sini.

            “Kau tentu masih ingat kalau beberapa barang-barangmu masih tertinggal di dalam apartemenmu,” kata Mr. Lee sambil memberikan segelas air kepada Jae Bum.

            “Kamsahamnida,” kata Jae Bum. “Tentu saja aku masih ingat.”

            “Apa kau berniat untuk tinggal disini lagi?” tanya Mr. Lee.

            Jae Bum mendesah sebelum menjawab. “Sebetulnya aku ingin kembali dan tinggal disini lagi. Tetapi mengingat kontrak kerjaku di Hongkong, aku harus segera menyelesaikannya. Aku sudah banyak bermain-main selama ini.”

            Mr. Lee mengangguk mengerti.

            “Kau membayar sewa padaku selama satu tahun. Terserah kau saja, kau mau tinggal di sini atau kembali ke sana. Pilihan terbaik tentunya dari dirimu sendiri,” kata Mr. Lee bijak.

            Jae Bum mengangguk. “Setelah kontrak kerjaku benar-benar selesai, aku akan kembali ke sini.”

            Mr. Lee menepuk bahu Jae Bum. “Aku sangat berharap kau bisa kembali lagi ke sini. Ternyata kepergianmu selama ini cukup memengaruhi kondisi di dalam apartemen ini. Para penghuni lantai dua yang biasanya selalu ramai, kini berubah menjadi sepi.”

            “Keberadaanku disini tidak terlalu berpengaruh.”

            “Mungkin tidak bagi penghuni lain. Tetapi berbeda untuk Jiyeon,” desah Mr. Lee.

            Mendengar nama itu disebut, Jae Bum mendongak menatap Mr. Lee.

            “Jiyeon?”

            “Beberapa kali aku mendengar kabar kalau Jiyeon ingin keluar dari apartemen ini. Saat aku bertanya langsung kepadanya, ia menyangkal kabar itu.” Mr. Lee menarik nafas dalam-dalam. “Kupikir, ia hanya mencoba untuk menghibur dirinya. Aku tahu ia tidak mungkin meninggalkan apartemen ini. Tidak ketika ia masih berharap banyak kalau kau akan kembali.”

            Cukup lama mereka terlibat obrolan seru. Mereka mulai membahas tentang beberapa kejadian yang cukup menghebohkan apartemen ini. Jae Bum agak menyesal tidak ikut serta pada saat-saat itu. Keceriaan yang timbul di dalam apartemen inilah yang paling dirindukan oleh dirinya.

            “Kau tidak ingin bertemu Jiyeon?” tanya Mr. Lee tiba-tiba.

            “Aku sangat ingin menemuinya,” jawab Jae Bum.

            “Cobalah untuk menunggunya. Mungkin sekitar sepuluh menit lagi ia akan tiba,” jelas Mr. Lee. “Pekerjaannya saat ini menuntutnya untuk selalu pulang malam.” Lalu Mr. Lee menceritakan bahwa saat ini Jiyeon sedang berkerja sebagai seorang konselor di sebuah klinik yang ia bangun bersama rekan-rekannya, termasuk Mario.

            “Jadi ia membangun klinik itu bersama namjanya?” gumam Jae Bum dengan nada kecewa.

            Tiba-tiba saja ponsel Jae Bum berbunyi. Jae Bum segera mengangkatnya. “Ada apa, Hyong?”

            Mr. Lee melihat Jae Bum sedang berbicara serius dengan ponselnya. Beberapa saat kemudian Jae Bum menutup ponselnya.

            “Aku harus segera pergi. Ada sesuatu yang mendesak yang harus aku urus,” kata Jae Bum dengan nada menyesal.

            “Baiklah. Aku harap kau sering-sering berkunjung ke sini,” kata Mr. Lee sambil mengantarkan Jae Bum ke depan pintu.

            “Tentu aku akan sering mengunjungi apartemen ini,” kata Jae Bum sambil membuka pintu. Ia terkejut melihat sosok yeoja yang selama delapan bulan terakhir ini berhasil menjajah pikirannya, sedang berdiri di ambang pintu, dengan tatapan yang sama kepada dirinya. Mereka cukup lama saling berpandangan. Jae Bum bisa merasakan atmosfir disekeliling tubuhnya berubah menjadi agak panas. Mungkin karena namja yang sedang berdiri di belakang yeoja itu.

            “Jiyeon!” Sekarang namja itu memanggil namanya. Dan tangannya saat ini mendarat di bahu yeoja itu. Jae Bum berusaha menahan rasa cemburunya yang begitu besar saat ini.

            “Kebetulan sekali kau sudah pulang.” Suara Mr. Lee berhasil menyadarkan Jae Bum. Ia nyaris menyemburkan emosinya sebelum akhirnya Mr. Lee mencairkan suasana. “Jae Bum sudah ingin pulang.”

            Mereka berdua tetap diam di tempat masing-masing.

            “Sebaiknya aku langsung ke atas,” kata Mario tiba-tiba. Ia melewati sepasang manusia yang sedang saling tatap saat ini. “Mr. Lee…aku dengar saat ini kau sedang sibuk-sibuknya merenovasi apartemen ini. Mungkin aku bisa membantunya saat akhir pekan…” tambahnya sambil menggeret Mr. Lee untuk menyingkir dari mereka berdua.

            Jae Bum melepaskan pandangannya kepada Jiyeon, lalu menunduk. Ia sangat ingin memeluk yeoja itu. Tetapi ia berusaha menahannya. Ia tidak mungkin memeluk Jiyeon di saat ia sedang bersama pacarnya. Jae Bum agak merasa aneh, kenapa Mario, yang ditudingnya selama ini sebagai pacar Jiyeon, justru meninggalkan pacarnya bersama namja lain. Apa namja putih itu begitu membebaskan Jiyeon untuk bergaul dengan namja manapun?

            “Apa kabar?” Jae Bum mendengar Jiyeon bersuara. Ia mendongak dan mendapati yeoja itu sedang tersenyum kepadanya.

            “Aku…baik-baik saja,” jawab Jae Bum akhirnya. “Bagaimana dengan kau?”

            Jiyeon mengangguk dan tersenyum. “Aku sangat baik.”

            Jae Bum percaya itu. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda bahwa yeoja ini telah mengalami penderitaan. Jae Bum agak kesal dengan hal itu. Delapan bulan terakhir ini Jae Bum benar-benar merasa terpuruk atas rasa cintanya yang bertepuk sebelah tangan terhadap Jiyeon. Tidak disangka, yeoja ini ternyata terlihat baik-baik saja, bahkan mungkin ia benar-benar melupakan dirinya selama ini.

            Tiba-tiba ponsel Jae Bum berdering lagi. Tetapi kali ini yang masuk adalah sebuah pesan singkat. Pesan singkat dari Im Joo Hwan. Setelah membacanya sekilas, ia segera menutup ponselnya lalu ia kembali memandang Jiyeon.

            “Maaf…aku harus segera pergi,” kata Jae Bum dan tidak lama kemudian ia pergi melewati Jiyeon keluar lewat pintu dibelakangnya.

            Jiyeon benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh namja itu. Baru beberapa saat ia bertemu, dan sekarang harus berpisah lagi hanya karena sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Beginikah cara namja itu memperlakukan dirinya? Sepertinya rasa sedih dan depresi yang belakangan ini mendera dirinya tidak ada artinya dimata namja itu. Apa benar yang selama ini ia bayangkan kalau sebenarnya Jae Bum tidak punya perasaan khusus terhadap dirinya? Jadi selama ini dialah yang terlalu percaya diri. Tentu saja, mana mungkin artis terkenal seperti Jae Bum mencintai yeoja biasa seperti dirinya. Menyadari hal itu membuat hati Jiyeon semakin sakit. Tiba-tiba saja air matanya menetes. Sedikit demi sedikit dan perlahan semakin deras.

            Ia menyesal sudah bersikap seperti itu kepada Jae Bum. Seharusnya tadi ia memaki namja itu. Jae Bum patut mendapatkannya. Jae Bum sudah mengingkari janjinya. Jae Bum sudah meninggalkan dirinya tanpa kepastian. Jiyeon berusaha untuk membenci namja itu, tetapi sangat sulit.  Ia selalu gagal setiap ingin mencobanya. Ia tidak bisa membenci namja itu. Tidak disaat ia masih berharap banyak pada Jae Bum.

**

               Sudah lima hari sejak kedatangan Jae Bum saat itu. Ia tidak kembali lagi. Jadi untuk apa sih kunjungannya saat malam itu? Apa ia hanya ingin menunjukkan kalau dirinya masih ingat dengan para penghuni apartemen Lee? Sepertinya semua pertanyaan yang belakangan ini memenuhi benak Jiyeon sudah terjawab semuanya. Faktanya, Jae Bum tidak mempunyai perasaan khusus kepadanya. Jae Bum tidak mencintainya. Jadi apa artinya jika selama ini ia berharap agar namja itu cepat kembali untuk menemuinya? Semua ternyata hanya omong kosong.

            Jiyeon berusaha memejamkan kedua matanya. Ia berjanji kepada dirinya sendiri tidak akan berharap lagi, tidak akan memikirkan namja itu lagi dan berusaha keras untuk menyingkirkan rasa cintanya ke namja itu.

            Akhirnya ia berhasil tidur ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sebelum tidur ia berdoa agar ia tidak memimpikan Jae Bum. Jujur saja, lima bulan terakhir ini ia memang mampu melupakan bayang-bayang Jae Bum dalam benaknya, tetapi tidak ketika ia sedang tidur. Nyaris setiap malam ia memimpikan namja itu. Dan itu sangat menganggunya.

            Bulan dan bintang berganti menjadi matahari yang menyinari pagi Jiyeon. Ia membuka matanya lalu menguap lebar-lebar. Sebelum bangun ia sempat terdiam dan berpikir sesuatu. Semalam ia tidak bermimpi sama sekali. Itu artinya ia tidak memimpikan Jae Bum. Ia berhasil dan itu merupakan langkah awal yang bagus untuk melupakan namja itu.

            Ia segera beranjak dari tempat tidurnya lalu mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Bangun pagi terasa segar sekali, terutama pada hari libur seperti ini. Hari Sabtu seperti sekarang ini sebenarnya bukan hari libur untuk klinik Jiyeon. Hari Sabtu adalah hari terbaik yang dimiliki Jiyeon, karena ia bebas menjadi konselor dan diganti oleh senior-seniornya. Mario pun hanya masuk sampai jam satu siang, setelah itu ia bebas untuk menikmati malam minggunya bersama Tina.

            Usai mandi, Jiyeon sibuk memilih baju yang ingin dipakainya. Memang sih ia tidak ingin kemana-mana saat itu, tetapi entah mengapa ia ingin membuat dirinya sibuk. Pertama, ia mulai mengacak-acak lemari bajunya lalu memilih baju yang sudah tak terpakai untuk disumbangan ke orang lain. Setelah berpakaian, ia mulai mengacak-acak isi kulkasnya di dapur. Bahkan bukan hanya diacak-acak, ia juga membongkar kulkasnya untuk dibersihkan. Ia juga heran pada dirinya sendiri. Ia bukan tipe yeoja yang rajin membersihkan rumah. Entah mengapa hari ini ia ingin membersihkan seluruh apartemennya. Bahkan ia mengajak Tina untuk berbelanja perabotan rumah tangga yang baru. Jiyeon benar-benar ingin melakukan suatu perubahan pada apartemennya. Ia banyak membuang barang-barangnya yang sudah lama. Tanpa sadar ia mendesah berat. Tina yang ikut membantunya langsung menoleh menatapnya bingung.

            “Apa kau sedang punya masalah?” tanya Tina sambil menata beberapa hiasan lucu diatas televisi Jiyeon.

            “Tidak ada,” jawab Jiyeon singkat.

            Selesai menata hiasan itu, Tina memperhatikan seluruh isi apartemen Jiyeon yang sebagian besar barang-barang di dalamnya sudah diganti yang baru. “Kau benar-benar ingin mengubah semuanya?” tanya Tina heran.

            Jiyeon mengangguk tanpa menoleh sedikitpun kearah Tina.

            “Aku benar-benar tidak mengerti. Kau biasa menggunakan hari liburmu untuk istirahat, bahkan kau malas untuk menyentuh cucian kotormu yang sudah menggunung itu. Ada apa sih dengan kau?” Tina menghampiri Jiyeon lalu duduk disebelahnya.

            “Sudah dua tahun aku tidak merubahnya. Dan aku mulai merasa bosan dengan isi apartemenku yang suram ini. Jadi apa salahnya aku merubahnya?”

            Tina menaikkan kedua bahunya. “Aku tidak mau banyak bertanya lagi padamu. Kau tidak pernah menjawabnya dengan jujur.”

            “Oh tolong deh…jangan menyudutkanku seperti itu,” keluh Jiyeon.

            “Aku tidak menyudutkanmu. Aku hanya merasa tingkah lakumu berubah sejak…”

            Jiyeon melirik sekilas ke arah Tina. “Sejak?”

            “Sejak Jae Bum meninggalkan apartemen ini,” lanjut Tina tanpa memperhitungkan akibat apa yang terjadi jika ia menyebut nama sakral itu di depan Jiyeon.

            Benar saja, wajah Jiyeon langsung berubah total. Ia terdiam dan tidak menjawab apa-apa.

            “Jangan menyalahkanku karena aku menyebut namanya. Begitulah kenyataannya. Kau jadi kurang asik setelah namja itu meninggalkan apartemen ini. Aku jadi merasa asing dengan dirimu yang sekarang. Aku bahkan lupa kalau aku pernah mengenalmu dengan baik…”

            “Tina-ah,” potong Jiyeon. “Aku masih Jiyeon yang dulu.”

            Tina menggeleng. “Kau mau tahu Jiyeon yang dulu seperti apa? Jiyeon yang dulu itu adalah Jiyeon yang tidak pernah menghabiskan waktunya untuk melamun sendirian di depan televisi yang sebenarnya tidak ditonton. Jiyeon yang dulu adalah Jiyeon yang lebih banyak tersenyum daripada menangis bahkan sampai meratapi dirinya sendiri. Jiyeon yang dulu tidak pernah menolak jika aku mengajaknya keluar untuk…”

            “Aku sibuk,” potong Jiyeon lagi.

            “Sibuk?” ulang Tina. “Itu bukan alasan. Ne, aku tahu kau sekarang adalah pemilik sebuah klinik yang mau tak mau menuntutmu untuk menjadi yeoja sibuk. Tetapi bagaimana dengan hari Sabtu dan Minggu? Kau tahu? Hari ini kau mengajakku untuk ke apartemenmu saja sudah satu hal yang luar biasa. Jadi kau bisa bayangkan betapa sibuknya kau sehingga kau tidak bisa menyempatkan dua atau tiga jam untuk hang out bersamaku,” jelas Tina panjang lebar. “Kau menyibukkan diri seperti orang kurang waras hanya karena ingin berusaha melupakan namja itu kan?”

            Jiyeon menoleh mendengar kata-kata Tina. Jiyeon diam dan berpikir, sepertinya semua yang dikatakan Tina benar adanya. Jiyeon menyibukkan dirinya supaya ia tidak mengingat namja itu lagi.

            “Aku hanya ingin membuka pikiranmu. Namja bukan hanya Jae Bum!” Tina menekankan setiap kata-katanya tepat di depan wajah Jiyeon. “Berusaha untuk berpikir, mati satu tumbuh seribu…”

            “Yaa! Kau kira aku playgirl?” potong Jiyeon dengan nada tersinggung.

            Tina mengacak-acak rambutnya sambil menggeram kesal. “Terserahlah. Aku hanya mau mencoba menyadarkanmu kalau belakangan ini kau sudah menjadi yeoja yang amat bodoh.”

            “Apa maksudmu?”

            “Berhentilah berharap. Berhenti berpikir kalau ia akan kembali untukmu. Dan berhenti menjadi yeoja cengeng hanya untuk menunggu hal yang tidak pasti.”

            Jiyeon diam membisu.

            “Aku sempat meyakini dirimu kalau namja itu akan kembali untukmu. Tetapi aku juga manusia yang bisa melakukan kesalahan. Sekarang aku mendukungmu untuk melupakan namja itu. Anggap saja kau tidak pernah bertemu dengannya. Anggap kalau perasaan cintamu padanya adalah suatu kekhilafan. Kau bisa menganggapnya namja brengsek, untuk mempermudah dirimu melupakan dirinya. Atau mungkin…”

            “Tina-ah,” potong Jiyeon. “Gumawo.”

            “Muot?”

            “Terima kasih atas semua nasihatmu. Aku akan mencoba melupakannya dengan caraku sendiri. Tetapi satu hal yang patut kau ketahui, aku sama sekali tidak menyesal karena pernah mencintai dirinya. Aku tidak menganggapnya sebagai suatu kekhilafan. Aku hanya menganggap bahwa ia bukan yang terbaik untukku.” Tina mengangguk lalu memeluk Jiyeon.

            “Jiyeon-ah?” panggil Tina.

            “Ne?”

            “Aku bisa mencarikan seorang namja untukmu.”

            “Muot?” Jiyeon melepaskan pelukannya lalu memandang Tina dengan ekspresi terkejut. “Maksudmu, kau ingin mencomblangiku dengan seorang namja?”

            Tina mengangguk sambil tersenyum. “Aku tahu kok tipe namja seperti apa yang kau mau. Yang jelas tidak sepopuler Jae Bum.” Tina tertawa setelah menjelaskannya. Jiyeon ikut tertawa mendengar lelucon Tina untuk dirinya. Mungkin hanya tertawalah yang mampu menghilangkan kesedihan dalam dirinya.

**

                Jiyeon menggulung kertas kecil panjang yang berisi daftar belanjaannya. Sabun dan odol, pewangi pakaian, pembersih wajah, beberapa bungkus mie instan, satu bungkus pasta dan bumbunya, sebotol besar selai coklat dan sebotol besar jus jeruk, beberapa sayuran dan buah jeruk titipan Tina. Selesai mengecek belanjaannya untuk memastikan tidak ada satupun yang terlewatkan, Jiyeon mendorong trolinya menuju kasir. Sembari menunggu antrian, Jiyeon membuka ponselnya dan mengecek inbox pesannya.

            Tiba-tiba saja ia mendengar sebuah suara memanggil sebuah nama yang sudah tidak asing ditelinganya.

            “Jae Bum-ah, Eomma tidak mau membelikannya untukmu,” kata seorang yeoja paruh baya pada seorang anak kecil di depannya. Jiyeon menghela nafas lega setelah mengetahui bahwa ‘Jae Bum’ yang baru di dengarnya adalah seorang anak kecil.

            Kelegaannya sepertinya tidak berlangsung lama setelah ia menyadari troli belanjaanya lepas kontrol dan menabrak tubuh seorang namja yang sedang antri di depannya. Namja itu menoleh dan melihat kearahnya dengan tatapan terkejut. “Jiyeon-ah?”

            Tubuh Jiyeon tiba-tiba saja menjadi kaku. Jantungnya berdebar kencang. Namja itu muncul lagi di hadapannya di saat-saat yang tak terduga seperti saat ini.

            “Annyeong,” tegur Jiyeon datar dan tanpa senyuman.

**

            Jae Bum menyodorkan sebungkus keripik kentang yang sudah dibuka kepada Jiyeon.

            “Aku sedang diet,” jawab Jiyeon berbohong.

            “Kau tidak memakan kripik kentang dan lebih memilih mengkonsumsi pasta dan selai coklat untuk menu dietmu?” tanya Jae Bum disertai senyum.

            “Ini…titipan Tina,” jawab Jiyeon terbata-bata.

            Jae Bum mengangguk. “Aku tahu kau sungkan padaku.”

            “Muot?” ulang Jiyeon. “Kenapa aku harus sungkan?”

            Namja itu menaikkan kedua bahunya. “Tentu hanya kau yang tahu.”

            Entah mengapa perbincangan mereka terdengar sangat garing. Mereka berdua terlihat sangat canggung. Jae Bumlah yang selalu buka suara lebih dulu dan setiap jawaban yang Jiyeon berikan untuk menanggapi pertanyaan Jae Bum terdengar dipaksakan. Jae Bum justru melihat sikap Jiyeon agak aneh. Ia terlihat agak gelisah dengan kaki yang tidak bisa diam.

            “Apa aku mengganggumu?” tanya Jae Bum tiba-tiba.

            Jiyeon agak terkejut dengan pertanyaan Jae Bum yang satu ini. “Aku tidak merasa kau sudah menggangguku.”

            “Syukurlah,” desah Jae Bum. “Kukira aku sudah mengganggumu. Kau terlihat kurang nyaman saat mengobrol denganku.”

            Jiyeon hanya diam. Dan lagi-lagi Jae Bum telah salah mengartikan sikapnya. “Atau mungkin aku telah berbuat salah padamu?” Ingin sekali Jiyeon menjawabnya dengan berteriak, “TENTU SAJA KAU SUDAH MEMBUAT KESALAHAN BESAR PADAKU. APA KAU TIDAK SADAR? KAU SUDAH MENINGGALKANKU BEGITU LAMA. DAN KAU INGAT JANJIMU PADAKU? KAU AKAN KEMBALI PADAKU, SECEPAT MUNGKIN!!!!!!”

            Jiyeon menggeleng, “Aniyo.”

            “Lalu?”

            Jiyeon mencoba tersenyum. “Apa hari ini aku kurang berekspresi? Mungkin aku hanya terlalu lelah. Aku mencoba menikmati hari liburku sebaik mungkin, seperti berbelanja. Tidak menyangka aku bertemu denganmu di tempat seperti ini. Untuk soal keripik tadi, mianhae…belakangan aku memang sedang diet. Tetapi sepertinya gagal karena aku merasa tidak ada sedikitpun lemak yang menghilang dari tubuhku ini. Jadi tidak apa-apa ya kalau aku mencicipi keripik kentangmu, boleh minta sedikit?” Jiyeon mengambil beberapa keripik kentang yang tetap mengacung kearahnya daritadi.

            Jae Bum merasa sikap Jiyeon benar-benar aneh, mengoceh tiada henti seperti orang yang sedang depresi.

            “Minta sedikit lagi, boleh?” tanya Jiyeon setelah berhasil menelan beberapa keripik kentang yang pertama.

            “Ini untukmu,” jawab Jae Bum.

            Tanpa malu-malu, Jiyeon langsung mengambil bungkusan keripik tersebut dari tangan Jae Bum dan segera memakannya. Entah apa yang sedang dirasakan oleh Jiyeon, Jae Bum justru merasa bahwa yeoja disebelahnya ini sedang memiliki masalah besar.

            “Apa kau sedang ada masalah?” tanya Jae Bum.

            Jiyeon berhenti mengunyah. Andai ia berani mengatakannya pada Jae Bum bahwa belakangan ini ia begitu merindukan dirinya dan juga marah padanya.

            “Aku seorang konselor yang punya seribu cara untuk mengatasi masalahku sendiri. Jadi kau tidak perlu khawatir,” jawab Jiyeon akhirnya.

            “Apa kau tidak merindukanku?” Jiyeon nyaris tersedak mendengar pertanyaan yang dilontarkan namja itu padanya.

            “Maksudmu, merindukan kekonyolanmu?” tanya Jiyeon balik dengan tawa yang dibuat-buat.

            “Bogosipho,” kata Jae Bum begitu lancar keluar dari bibirnya. Tanpa sadar Jiyeon meremuk bungkusan keripik kentang ditangannya. Dan seperti biasa, jantung brengsek itu mulai berdetak tak keruan lagi. “Aku merindukanmu, Jiyeon.”

            Apa yang harus ia jawab? “Aku juga merindukanmu?” atau “Aku sudah lebih dulu merindukan!” ANDWAE!

            “J-jinjiha?” tanya Jiyeon terbata-bata. “Itu merupakan suatu hal yang langka kan? Merindukanku? Lucu sekali,” jawab Jiyeon dengan ekspresi bodoh. Memang benar! Jawabannya tadi terdengar sangat tolol.

            “Apa kau tidak percaya padaku?” tanya Jae Bum. “Jiyeon-ah…” Jae Bum mengambil kedua tangan Jiyeon. “Bisakah kau percaya kalau aku bilang aku sudah…” Kata-kata Jae Bum menggantung begitu saja.

            Jiyeon merasa kedua tangan Jae Bum begitu hangat saat menggenggam kedua tangannya. Kakinya lemas dan dadanya berdegup kencang. Ingin sekali Jiyeon memaki jantungnya agar tidak berdetak terlalu keras. Ia takut Jae Bum mendengarnya dan menyadari bahwa saat ini ia sedang begitu gugup berhadapan dengannya.

            “Jiyeon dengarkan aku sekali lagi,” pinta Jae Bum sambil berdeham berkali-kali. “Aku harus segera mengatakannya padamu.”

            Jiyeon mencoba mempersiapkan dirinya sendiri untuk mendengar semua pengakuan dari Jae Bum.

            “Bisakah kau percaya kalau aku bilang aku sudah…”

            TUT TUT TUT TUUUUUT

            “Mianhae,” kata Jae Bum sambil mengambil ponsel dari dalam saku jasnya. “Kenapa alarmnya berbunyi disaat-saat seperti ini,” gerutu Jae Bum sambil memasukkan kembali ponselnya.

            Jiyeon menghembuskan nafas panjang. Cepatlah kau katakan agar aku tidak perlu berdebar-debar lebih lama lagi!

            “Mianhae,” kata Jae Bum dengan nada bersalah. “Kenapa aku jadi sulit mengatakannya padamu…”

            “Jae Bum-ah!” potong Jiyeon tiba-tiba. “Sepertinya ponselmu bergetar.” Betul saja yang dikatakan Jiyeon, setelah itu terdengar suara menjerit dari ponsel Jae Bum. Dengan buru-buru Jae Bum mengangkat telepon dari Im Joo Hwan.

            “Hyong, bisakah kau…”

            “Aku yakin kau mendengar alarm ponselmu berbunyi. Aku sengaja memasangnya untukmu agar kau tahu waktu. Ini sudah saatnya untuk kau kembali. Sebentar lagi kau ada wawancara dengan salah satu media…”

            “Hyong!” potong Jae Bum jengkel. “Araseo, aku akan kembali secepat mungkin.” Jae Bum langsung mematikan ponselnya setelah selesai bicara. Perhatiannya kembali kepada Jiyeon. “Aku akan mengatakannya sekali saja dan aku harap kau mendengarnya dengan baik. Bisakah…”

            “Mianhae Jae Bum,” potong Jiyeon dengan nada putus asa. “Tidak seharusnya kita begini. Ada beberapa batasan antara kita. Ne, kau pasti sudah menyadari hal itu. Kau adalah seorang artis dan aku? Aku hanya seorang yeoja biasa.”

            “Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu!”

            “Tetapi aku yang mempermasalahkannya. Dan masih banyak lagi, fans-fansmu diluar sana, keluargamu, saudara-saudaramu…”

            “Aku tidak peduli!” bantah Jae Bum.

            “Jae Bum-ah,” desah Jiyeon. “Aku senang sudah bisa mengenalmu. Menjadi tetanggamu disebuah apartemen kecil adalah hal yang sangat menyenangkan. Aku tidak yakin aku bisa merasa bahagia jika mempunyai hubungan yang lebih dari seorang teman denganmu.” Kata-kata itu seperti menohok relung hati Jae Bum. “Kau seorang artis, Jae Bum. Dan sampai kapanpun aku tidak bisa mengikuti gaya hidup seorang artis seperti dirimu. Dengan semua kesibukanmu, perbedaan status dan banyak lagi perbedaan antara kita, itu semua yang membuat sebuah batasan yang begitu tinggi diantara kita.”

            “Jiyeon-ah, seharusnya kau tidak berkata seperti itu. Aku tidak peduli dengan batasan…” Ponsel Jae Bum berdering lagi. Dengan geram Jae Bum mengeluarkan ponselnya lalu melemparkannya ke lantai dengan keras. Jiyeon terkejut melihatnya. Beberapa pengunjung supermarket menoleh dan melihat ke arah mereka berdua. Ada yang berseru memanggil nama Jae Bum setelah cukup lama baru menyadari kalau di dalam supermarket tersebut ada seorang artis korea terkenal, Im Jae Bum. Beberapa saat kemudian, mereka berkumpul mengerubungi mereka berdua. Beberapa ponsel kamera tersorot ke arah mereka. “Siapa yeoja itu? Apa ia pacar baru Im Jae Bum?” tanya seseorang. Kejengkelan Jae Bum bertambah, saat ada seseorang penggemarnya menghampirinya untuk minta tanda tangan.

            “Apa karena statusku ini?” tanya Jae Bum kemudian. Ia benar-benar mengacuhkan penggemarnya itu.

            Jiyeon menunduk malu karena menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung supermarket.

            “Lihat aku, Jiyeon-ah!” pinta Jae Bum. “Apa karena statusku ini? Semua batasan konyol itu terbentuk karena statusku ini?”

            “Jae Bum-ah…”

            “Aku bersedia meninggalkan profesiku saat ini,” kata Jae Bum.

            “Muot?” kata penggemar Jae Bum itu. “Maksudmu kau akan berhenti menjadi artis karena yeoja ini?”

            “Bisakah kau diam?” tanya Jae Bum sambil melotot ke arah penggemarnya itu. Jae Bum kembali menatap Jiyeon yang masih tertunduk. “Aku mencoba mengalah selama depan bulan ini. Tetapi aku tidak bisa. Aku selalu memikirkanmu dimana saja aku berada. Semua batasan-batasan itu tidak ada artinya dibandingkan dengan besarnya rasa cintaku padamu!”

            Jiyeon menoleh menatap Jae Bum. Apa ia tidak salah dengar?  Secara tidak langsung, namja ini telah mengungkapkan perasaannya pada dirinya. Jae Bum mencintai dirinya? Apakah ini mimpi?

            Tiba-tiba ponsel Jae Bum berdering lagi. Jae Bum agak heran dengan ponselnya yang masih bisa berfungsi setelah dibanting begitu keras olehnya.

            “Sebaiknya kau pergi,” kata Jiyeon sambil mengambil kantung belanjaannya. “Aku sudah terlalu lama disini. Tina menunggu titipannya.”

            “Aku masih belum selesai bicara denganmu,” kata Jae Bum dan itu membuat langkah kaki Jiyeon terhenti. Jae Bum mengambil ponselnya lalu menghampiri Jiyeon. Ia memberikan selembar kartu nama pada yeoja itu. “Aku harap kau menghubungiku secepat mungkin.” Setelah itu Jae Bum pergi meninggalkan Jiyeon diantara merumunan para pengunjung. Para pengunjung lalu berbisik-bisik dan ada yang menyahut keras, “IA MENDAPATKAN NOMOR PONSEL, JAE BUM!

**

                Jiyeon berusaha menyobek kartu nama Jae Bum dan lagi-lagi gagal. Buatnya saat ini salah satu sarana yang mampu membuat dirinya bertemu dengan Jae Bum adalah kartu nama itu. Dikartu nama tersebut, tertera jelas nama asli Jae Bum, nomor ponselnya dan alamat agensinya di Korea sana. Apa ia harus menelponnya? Ternyata rasa gengsinyalah yang menang dan membuat Jiyeon selalu bertahan untuk tidak menelpon namja itu.

            Nyaris saja jantung Jiyeon copot setelah mendengar ponselnya berdering keras. “Aku harus mengganti nada deringku,” gerutunya sambil mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja di ruang tamu.

            “Jiyeon-ah?” Sebelum Jiyeon menjawab, ia mendengar suara seorang namja yang sedang panik. Jiyeon mengenalinya sebagai suara Ji-Hwan.

            “Oppa? Ada apa?” tanya Jiyeon jadi ikut-ikutan panik.

            “Bisa kau datang ke apartemenku? Eun Hye sepertinya mau melahirkan. Ia baru saja menelponku dan berkata perutnya sakit. Sialnya sambungan teleponnya terputus. Aku sedang berada dalam perjalanan. Bisakah kau membantu Eun Hye berkemas untuk ke rumah sakit?” tanya Ji-Hwan panik luar biasa.

            Jiyeon merasa aura kepanikan Ji-Hwan mengalir lewat sambungan ponselnya dan masuk ke dalam dirinya. “Baik. Aku segera ke apartemenmu.”

            Jiyeon menutup sambungan teleponnya dan segera bergegas menuju apartemen Eun Hye. Ia melihat Eun Hye sedang mengerang kesakitan diatas tempat tidurnya. Tanpa banyak bicara, Jiyeon langsung mengemas pakaian Eun Hye dan tidak lupa ia menelpon ke ponsel Wooyoung untuk meminta bantuan disaat membopong Eun Hye nantinya. Beberapa saat kemudian, muncul Wooyoung dan Tina dengan aura kepanikan yang sama.

            “Aku tidak bisa menunggu Ji-Hwan. Aku sudah tidak tahan!” pekik Eun Hye sambil mengerang panjang karena merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.

            “Bagaimana ini?” tanya Jiyeon dengan tangan gemetaran. Ia sudah selesai mengepak barang-barang Eun Hye.

            “Apa Hyeong masih lama?” tanya Wooyoung.

            “Aku tidak tahu. Ia hanya berkata, ia sedang dalam perjalanan menuju kemari,” jawab Jiyeon.

            “Omona!” pekik Tina tiba-tiba. Ia menunjuk kasur Eun Hye yang mendadak basah.

            “Air ketubannya pecah!” pekik Jiyeon panik. “Kita tidak bisa menunggu Ji-Hwan. Kita harus segera membawa eonnie ke rumah sakit!”

            Wooyoung terlihat berpikir beberapa saat.” Baiklah, aku akan mencari taksi.”

            “Sudah tidak sempat, pabbo!” kata Tina sambil menjitak kepala kakaknya itu.

            “Lalu kita harus bagaimana?” protes Wooyoung sambil mengelus kepalanya.

            “Apa sempat kalau Mario kupanggil untuk kesini dan…”

            “Kau sama bodohnya denganku!” balas Wooyoung sambil menjitak kepala Tina.

            “AKU SUDAH TIDAK TAHAN LAGI!” Pekikan keras Eun Hye menyadarkan mereka bertiga bahwa  tidak seharusnya mereka berdebat disaat keadaan genting seperti ini.

            “Oke!” Jiyeon menghela nafas panjang. “Wooyoung-ah, kau turun dan minta tolong pada Mr. Lee untuk meminjamkan mobilnya. Tina dan aku membantu membopong kak Eun Hye turun tangga!”

            Tanpa banyak berpikir, mereka bertiga mulai beraksi sesuai instruksi yang diberikan oleh Jiyeon. Agak repot membantu Eun Hye turun ditangga yang sempit seperti ini. Jiyeon dan Tina mencoba menjaga keseimbangan agar mereka bertiga tidak jatuh. Setelah berhasil menurunkan Eun Hye, Jiyeon dan Tina membopongnya menuju garasi, tempat dimana mobil Mr. Lee diparkir. Wooyoung sudah siap didepan setir kemudinya. Jiyeon dan Tina segera duduk disebelah kanan kiri Eun Hye.

            “CEPAT BAWA AKU KE RUMAH SAKIT. AKU SUDAH TIDAK TAHAN!” pekik Eun Hye keras, nyaris memecahkan gendang telinga Jiyeon dan Tina.

            “Wow, aku tidak menyangka bisa mendengar suara keras kak Eun Hye disaat seperti ini. Efek yang ditimbulkan si bayi itu hebat sekali!” kata Wooyoung sambil menoleh ke kursi belakang.

            “Cepat kau keluarkan mobil ini dan antar kita ke rumah sakit!” geram Tina sambil melotot ke arah kakaknya yang sedang cengar-cengir menatap Eun Hye.

            Beberapa saat kemudian, mobil Mr. Lee sudah berada di luar. Wooyoung meminta maaf berkali-kali pada Mr. Lee karena menyuruhnya untuk menutup pintu garasi. Dan selanjutnya kita bisa melihat kehebohan tiga anak muda saat menolong ibu-ibu hamil. Selama perjalanan, Eun Hye tidak henti-hentinya menjambak rambut Wooyoung, yang saat itu sedang menyetir dan butuh konsentrasi khusus.

            “Jangan menjambak rambut Wooyoung. Ia sedang menyetir!” kata Tina sambil mencoba melepaskan tangan Eun Hye yang kuat menjambak rambut kakaknya. Wooyoung meringis kesakitan sambil berkata, “Jambak Tina saja. Dia mampu menahan rasa sakitnya. Kau tahu noona, kekuatannya nyaris menyamai tenaga kuda…AUCH!” Tina baru saja ikut-ikutan menjambak kakaknya itu dengan kesal.

            “AWAS ADA TRUK DI DEPAN KITA. MOBILMU MELENCENG DARI JALUR!!!!!!!” pekik Jiyeon. Eun Hye dan Tina otomatis menghentikan acara jambak-menjambak rambut Wooyoung. Dengan kelihaian seorang pembalap, Wooyoung mampu menghindar dari truk tersebut dan mobil mereka kembali dalam jalur yang seharusnya. “Berhenti menjambak Wooyoung karena itu bisa membuat kerugian besar untuk kita semua!” geram Jiyeon.

            “AKU MAU MELAHIRKAN DISINI SAJA….SUDAH TIDAK KUAT LAGI…DEMI TUHAN…AAAARGH, SAKIT SEKALI!” pekik Eun Hye sambil menjambak rambut Jiyeon dan Tina.

            “Tarik nafas lalu buang perlahan,” kata Tina sambil meringis kesakitan memegang rambutnya yang dijambak.

            “Kau tidak bisa melahirkan disini!” erang Wooyoung. “Mr. Lee akan memarahiku kalau menemukan mobilnya kotor karena darah…”

            “DIAM DAN MENYETIR SAJA!” teriak Jiyeon dan Tina bersamaan.

            Eun Hye berusaha untuk menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Dan lama-kelamaan dirinya mulai terlihat rileks. Ia mengendurkan tangannya dari rambut Jiyeon dan Tina.

            “Apa kau sudah memberitahu Ji-Hwan Oppa kalau kita tidak menunggunya?” tanya Tina ke arah Jiyeon.

            “Omona, aku lupa!” desah Jiyeon sambil memukul dahinya. “Baiklah aku akan menghubunginya sekarang.” Tepat saat ia akan memencet nomor ponsel Ji-Hwan, ponselnya berdering. “Yeobosoyo?”

            “Jiyeon-ah, bisakah kau menghentikan mobilmu sekarang? Aku mau bicara denganmu!”

            “Jae Bum-ah?!” gumam Jiyeon terkejut setelah mengenal suara si penelpon.

            “Mobilku tepat disebelah mobilmu. Menolehlah! Jiyeon menoleh dan mendapati sebuah mobil sedang jalan beriringan dengan mobilnya. Ia membuka kaca mobil dan melihat Jae Bum sedang menyetir mobil dengan telepon berada di telinga kanannya.

            “Kau tidak boleh menyetir sambil menelpon. Berbahaya!” pekik Jiyeon panik.

            “Aku mau bicara denganmu!

            “Tidak bisa. Aku sedang buru-buru ke rumah…” Dan dalam sekejab mata, Jiyeon melihat mobil Jae Bum kehilangan arah dan menabrak pembatas jalan.

            “Apa yang terjadi?” tanya Wooyoung kaget dengan suara keras tabrakan mobil Jae Bum. “Apa ada kecelakaan? Apa kita harus berhenti?”

            “AKU SUDAH KUAT LAGI. RASANYA MAU MATI SAJA!” Pekikan suara Eun Hye membuat pandangan mata Jiyeon menjadi kabur. Ia ingin menyuruh Wooyoung untuk menghentikan mobilnya, tetapi tidak mungkin disaat genting seperti ini. Eun Hye harus segera dibawa ke rumah sakit.

            “Apa Jae Bum yang berada di dalam mobil itu?” tanya Tina membuyarkan lamunanya.

            Jiyeon mengangguk kaku. “Wooyoung, lebih cepat lagi. Eonnie harus cepat sampai di rumah sakit.”

            Wooyoung mengangguk seperti orang bodoh yang kebingungan. Jiyeon merasa laju mobil menjadi semakin cepat.

            “Jiyeon-ah, bagaimana dengan Jae Bum? Ia tertabrak!” Tina mencoba menyadarkannya lagi.

            “Aku tahu!” jawab Jiyeon agak keras. “Banyak orang yang bisa menolongnya. Kita tidak boleh berhenti. Eonnie harus segera sampai di rumah sakit,” jawab Jiyeon sambil mengeluarkan air mata.

            “Jiyeon-ah, mianhae…tetapi aku benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit…AAAAAARRRRH!”

            “Jiyeon-ah, darah…” Tina menunjuk darah yang mengalir dari kaki Eun Hye.

            “MOUT?” pekik Wooyoung. “Darahnya keluar? Mengotori mobil Mr. Lee? Mati aku!”

            “Jangan mengeluh terus dan berusaha untuk fokus disaat menyetir!” Tina menjitak kepala Wooyoung untuk kedua kalinya.

            “Apa tidak bisa ditahan sedikit lagi?” tanya Jiyeon pada Eun Hye.

            Eun Hye menggeleng, “Rasanya aku mau mati saja. Tidak peduli lagi…rasa sakitnya saat mengerikan!”

            Tina sibuk menyeka keringat yang bercucuran dari kening dan leher Eun Hye. Tiba-tiba ponsel Jiyeon berdering dan tertera nama Ji-Hwan di layar ponselnya. “Oppa?”

            “Aku segera menyusulmu ke rumah sakit. Hati-hati membawa mobilnya. Aku mau anakku lahir selamat dan bagaimana dengan Eun Hye?” tanya Ji-Hwan dengan nada panik luar biasa.

            “Tenang. Kita bertiga akan menjaga eonnie. Kau…jangan menelpon disaat sedang menyetir,” kata Jiyeon terbata-bata.

            “Baiklah, aku akan segera menyusulmu.”

            TUT TUT TUT

            Air mata mengalir deras dari mata Jiyeon. “Mianhae, Jae Bum-ah.”

**

            Jiyeon, Tina dan Wooyoung duduk di depan pintu ruang bersalin. Jiyeon bisa mendengar bisikan kecil dari mulut Tina, yang sedang berdoa. Ji-Hwan belum datang juga. Padahal Eun Hye menginginkan kehadiran Ji-Hwan disaat ia melahirkan. Berkali-kali Wooyoung mencoba menghubungi ponselnya tetapi tidak berhasil. Dengan putus asa, Wooyoung memasukkan ponselnya ke kantung bajunya. Ia menoleh melihat Jiyeon.

            “Kau tidak apa-apa?” tanya Wooyoung sambil memandang Jiyeon resah.

            Jiyeon menggeleng, “Aku baik-baik saja.”

            “Apa menurutmu sudah ada yang menolong Jae Bum?”

            “Aku berharap begitu. Ia artis kan? Siapa sih yang tidak ingin menolong seorang artis? Sekarang ia pasti sudah dibawa ke rumah sakit,” jawab Jiyeon dengan mata berkaca-kaca.

            Wooyoung bisa merasakan kesedihan Jiyeon. ia mencoba merangkul yeoja itu dan berusaha menenangkannya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki orang sedang berlari-lari keci dari ujung koridor. Ji-Hwan sedang berlari tergopoh-gopoh dengan bercak darah di kemeja putihnya.

            “kau kenapa?” tanya Wooyoung kebingungan setelah melihat kondisi Ji-Hwan saat itu sangat mengerikan. Wajahnya penuh keringat dan bercak darah itu membuat Jiyeon dan Tina ikut bertanya-tanya dalam hati.

            “Aku ketemu Jae Bum di jalan. Mobilnya menabrak pembatas jalan. Tetapi tenang saja, aku sudah membawanya ke ruang UGD di sana,” jelas Ji-Hwan terengah-engah. “Bagaimana dengan Eun Hye? Apa ia sudah melahirkan?” tanya Ji-Hwan yang tiba-tiba teringat akan istrinya.

            “Masuklah. Dia sudah menunggumu dari tadi,” kata Wooyoung. Ji-Hwan segera masuk ke dalam ruang bersalin setelah mengucapkan rasa terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada Jiyeon, Wooyoung dan Tina.

            “Jadi Jae Bum ada di rumah sakit ini?” tanya Tina.

            Ada perasaan lega di dalam hati Jiyeon setelah mendengar berita itu dari Ji-Hwan. Paling tidak, Jae Bum sudah tertolong. Itu cukup buat Jiyeon. Cukup untuk mengobati kekhawatirannya pada Jae Bum.

**

            Ji-Hwan keluar dari ruang bersalin dengan wajah pucat. Mereka bertiga mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi disini. Ji-Hwan tidak berkata apa-apa, sampai akhirnya Wooyoung menyadarkannya dengan menyentuh bahunya.

            “Eun Hye…berhasil…anak kembar…sangat cantik…seperti dirinya…” kata Ji-Hwan terputus-putus.

            “Eonnie sudah melahirkan bayinya dengan selamat? Anak kembar?” ulang Tina begitu histeris.

            Ji-Hwan mengangguk perlahan.

            “Omona!” pekik Tina senang sambil memeluk Ji-Hwan. “Kau sungguh namja yang beruntung. Kau sudah menjadi Appa dari kedua putri kembarmu yang cantik-cantik. Chukkae. Bisakah kita melihat bayinya?” cerocos Tina.

            “Gumawo,” kata Ji-Hwan dengan berurai air mata. “Bayinya akan segera dibawa ke ruang khusus bayi. Dan Eun Hye akan segera dipindahkan ke kamar rawat. Kalian bisa melihat bayinya sebentar lagi,” jawab Ji-Hwan.

            “Syukurlah,” desah Wooyoung. “Semua kehebohan yang terjadi berakhir dengan bahagia.”

            “Nomu nomu gumawo,” kata Ji-Hwan sambil memeluk Wooyoung erat. “Aku berhutang padamu. Kau sudah menyelamatkan istriku.”

            “Ahh…tidak perlu. Lagipula, Jiyeon dan Tina juga ikut serta kan dalam misi penyelamatan noona,” kata Wooyoung sambil cengar-cengir.

            “Gaya bicaramu seperti detektif saja,” timpal Tina.

            Ji-Hwan tertawa melihat perseteruan mereka berdua. Tiba-tiba tawanya berhenti karena teringat akan suatu hal. “Bagaimana dengan keadaan Jae Bum?”

            Jiyeon yang daritadi hanya diam, bahkan belum mengucapkan selamat kepada Ji-Hwan, menoleh dan sadar dengan ucapan Ji-Hwan.

            “Jiyeon, apa kau tidak mau melihatnya?” tanya Ji-Hwan.

            Jiyeon mengangguk, “Aku mau melihatnya.”

            “Lalu kenapa kau masih disini? Kurasa ia membutuhkan dirimu saat ini.”

            Tanpa banyak bicara dan berpikir lagi, Jiyeon meninggalkan ketiga orang itu. Ruang UGD terletak di lantai dasar tepat bersebelahan dengan ruang operasi. Dengan tidak sabar, Jiyeon menunggu pintu lift  terbuka.  Merasa hanya buang-buang waktu, Jiyeon memilih mengambil jalan lewat tangga yang berada di sudut ruangan. Ia berlari menuruni tangga ke lantai dasar. Tanpa sadar ia melewati IU yang sedang menunggu pintu lift menuju lantai dua terbuka.

            “Jiyeon-ah?” gumam IU bingung karena melihat Jiyeon melewati dirinya dengan lari tergopoh-gopoh.

            Sesampainya di depan pintu ruang UGD, seorang suster keluar sambil mendorong troli kecil berisi kantung-kantung darah di dalam box penyimpanan.

            “Apa pasien bernama Jae Bum ada di dalam?” tanya Jiyeon dengan nafas tersengal-sengal.

            “Oh…artis Korea itu? Ia sudah dipindahkan ke dalam kamar rawat. Mari saya tunjukkan,” ucap si suster menawarkan bantuan.

            “Gumawo,” kata Jiyeon sambil mengangguk.

            Suster segera membawa Jiyeon ke kamar rawat Jae Bum yang ternyata berada satu lantai dengan ruang UGD, hanya saja kamar tersebut berada tepat di belakang ruang UGD ini. Jiyeon mengucapkan terima kasih lagi sebelum si suster pergi.

            Di dalam ruangan inilah Jae Bum berada. Entah mengapa nyali Jiyeon jadi ciut ketika ingin masuk ke dalam. Apa Jae Bum akan menerima dirinya? Atau malah mengusirnya? Tidak mungkin. Sebelum Jae Bum sempat mengusirnya dengan kondisi rapuh seperti saat ini, paling tidak Jiyeon masih sempat mengucapkan satu atau dua patah kata untuk meminta maaf. Ketika ia akan masuk ke dalam, ia merasa bahunya baru saja dicolek seseorang. Ia mendapati Im Joo Hwan sedang tersenyum ke arahnya. Im Joo Hwan memberi isyarat kalau ia ingin berbincang sebentar dengan dirinya. Akhirnya mereka memilih duduk di sebuah kursi yang berada di depan ruang rawat Jae Bum ini.

            Im Joo Hwan mengeluarkan sebuah surat dari sakunya. Ia mengatakan kalau surat itu adalah surat yang dikirim Jae Bum untuk dirinya yang berada di Osaka saat ia masih tinggal di apartemen itu. Setelah memberikan surat itu, ia undur diri dan masuk ke dalam ruang rawat untuk menemui Jae Bum.

            Jiyeon segera membuka surat itu dan membacanya.

            Hyong, bagaimana kabarmu disana?

            Jangan kau tanya bagaimana kabarku disini. Aku merasa cukup nyaman tinggal disini. Walaupun awalnya aku mengira aku akan mati tercekik sarang laba-laba dan kehabisan udara karena tinggal di apartemen kecil seperti ini. Apartemen kecil ini cukup bersih dan aku tidak menemukan sarang laba-laba sedikitpun.

            Aku sudah berkenalan dengan para penghuni di apartemen ini. Seorang kakak beradik yang tinggal di sebelah apartemenku ternyata berasal dari Thailand.-Korea Lalu sepasang suami istri yang tinggal di depan apartemenku menawarkanku sebuah pekerjaan, yaitu menyanyi di cafénya. Mana mungkin aku menerima pekerjaan itu. Statusku bisa terbongkar kalau aku menerima pekerjaan itu. Lalu penghuni yang berada diantara apartemen pasangan suami istri dan kakak beradik ditempati oleh seorang yeoja. Kupikir ia masih single. Aku bertanya-tanya berapa umur yeoja itu. Sepertinya tidak jauh berbeda denganku, tetapi perilakunya mengesankan kalau ia sudah berumur tiga puluhan yang sepertinya belum mempunyai kekasih. Aku jarang bertemu dengan yeoja bernama Jiyeon itu. Ia cantik sih, tetapi sepertinya ia tidak suka padaku. Ia selalu terlihat ketus jika berbicara denganku. Mungkinkah aku tertarik dengannya? Tidak mungkin. Kehidupanku di Korea. Pekerjaan dan keluargaku ada disana. Tetapi aku tidak memungkirinya, jika suatu saat aku tertarik dengan yeoja disini.      

            Surat ini kutitipkan pada pengawal baru itu untuk dibawa dan diberikan kepadamu. Kulihat cara kerja pengawal baru itu cukup bagus dan cukup bisa dipercaya. Kuharap kau bisa mengunjungiku sewaktu-waktu jika kau sedang tidak sibuk.

            Salam hangat,  Jae Bum

 

            Usai membaca surat itu, Jiyeon melipatnya dan memasukkan kembali ke dalam amplopnya. Entah apa maksud Im Joo Hwan memberikan surat itu kepadanya. Isinya tidak menarik sama sekali, Ne kecuali bagian saat dirinya disebut-sebut. Oh tidak! Jangan bilang kalau Jae Bum sudah memperhatikannya sejak pertemuan awal mereka. Apa namja itu sudah menyukainya lebih dulu? Mana mungkin. Jae Bum selalu terlihat menyebalkan setiap bertemu dengannya. Atau mungkin, alasan ia bersikap seperti itu agar orang lain termasuk dirinya tidak bisa mengetahui perasaan yang sebenarnya kepadanya.

            Tiba-tiba Im Joo Hwan keluar. Ia bilang Jae Bum ingin bertemu dengannya. Dengan perasaan campur aduk, Jiyeon memaksakan dirinya untuk masuk ke dalam.

            Ia melihat Jae Bum tergeletak di atas ranjang dengan kepala di perban. Kondisi Jae Bum saat ini terlihat sangat rapuh dan menyedihkan. Namja itu tersenyum padanya.

            “Pabbo,” kata Jiyeon setelah berada di dekat Jae Bum. “Aku sudah bilang jangan menelepon saat kau sedang menyetir.”

            “Tolong jangan marahi aku disaat aku sedang sekarat begini,” keluh Jae Bum sambil mengurut keningnya.

            “Tidak peduli,” sahut Jiyeon. “Kau nyaris membuatku jantungan. Aku melihatnya sendiri ketika mobil kau menabrak pembatas jalan itu.”

            Jae Bum menatap kedua mata Jiyeon yang sedang memancarkan kekhawatiran padanya.

            “Mianhae,” katanya pelan.

            Jiyeon mendongak dan menatap wajah Jae Bum. “Aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Aku tidak bisa menolongmu saat itu. Aku harus membawa eonnie ke rumah sakit. Dia sudah melahirkan.”

            “Muot?” tanya Jae Bum dengan nada terkejut.

            “Bayi kembar. Cantik seperti eonnie. Kalau kau sudah baikan, kau harus menjenguknya. Sudah lama kan kau tidak bertemu dengannya,” oceh Jiyeon. Jae Bum merasa sikap Jiyeon sudah kembali seperti biasanya, penuh dengan celotehannya yang disertai nada ketus.

            “Tentu,” jawabnya ringan. “Aku rindu pada Ji-Hwan dan Eun Hye, Tina dan Wooyoung, keluarga Mr. Lee. Tetapi aku lebih merindukanmu.”

            Jiyeon merasa namja itu sedang menatap ke dalam matanya yang sedang tertunduk. Ia malu untuk mengangkat wajahnya dan balas menatap mata Jae Bum.

            “Jiyeon, lihat aku,” pinta Jae Bum sambil menggenggam erat tangan Jiyeon. “Apapun…aku akan menebus semua kesalahanku padamu. Kau tahu Jiyeon, aku tidak mungkin merebutmu dari namja itu. Tetapi aku juga tidak rela kalau namja itulah yang mendapatkanmu.”

            Alis Jiyeon berkerut karena tidak mengerti maksud pembicaraan Jae Bum. Kebingungannya tertelan begitu saja karena Jae Bum tidak memberinya kesempatan untuk berbicara.

            “Aku sudah tidak peduli. Aku merasa bahwa yang pantas memiliki dirimu adalah aku,” kata Jae Bum. “Aku tahu kesalahan terbesarku padamu. Aku tidak segera kembali padamu. Padahal aku sudah berjanji akan segera kembali setelah urusanku dengan skandal itu selesai. Apa kau begitu membenciku? Aku sadar aku sudah meninggalkanmu selama delapan bulan, tetapi kau harus tahu…aku tidak kembali karena aku melihat kau begitu gembira dengan namja itu…”

            “Jae Bum-ah…aku tidak mengerti dengan kata-katamu. Daritadi kau mengatakan aku dengan namja itu. Namja itu yang mana?” tanya Jiyeon kebingungan.

            Jae Bum tersenyum, “Kau tidak perlu mengelak. Aku tahu hubunganmu dengan namja itu sudah cukup lama, bahkan sebelum aku hadir ke dalam kehidupanmu, kau sudah bersama dengan namja itu.”

            “Jae Bum-ah…”

            “Aku tidak mau ambil pusing,” potong Jae Bum. “Aku akan meminta pada namja itu agar ia memberikan dirimu kepadaku.”

            “Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau bicarakan!”

            “Jiyeo-ah…cukup berpura-pura denganku. Sekarang jawab pertanyaanku!” kata Jae Bum agak tegas. “Apa yang dimiliki namja itu yang tidak kumiliki? Apa yang sudah namja itu berikan kepadamu sehingga kau terlihat begitu bahagia saat bersamanya? Aku bisa melakukannya kepadamu. Bahkan aku bisa menjadi lebih sempurna daripada namja itu!”

            “Jae Bum-ah, bisakah kau jelaskan apa maksud dari…”

            Jae Bum mempererat genggaman tangannya. “Saranghaeyo, Jiyeon-ah. Bisakah kau melupakan namja itu…dan mulai melihatku?”

**

            “Saranghaeyo, Jiyeon-ah. Bisakah kau melupakan namja itu…dan mulai melihatku?”

            Detak jantung Jiyeon semakin keras. Ia berdoa agar jantungnya tidak copot disaat-saat seperti ini. Ia merasa dadanya sesak dan penuh akibat gelembung-gelembung kebahagiaan yang semakin membuncah dan membesar.

            “Saranghaeyo, Jae Bum-ah,” kata Jiyeon akhirnya.

            Jiyeon bisa melihat haru di dalam mata Jae Bum. Namja itu sekarang berusaha bangun dan memeluk Jiyeon.

            “Kau tidak boleh bangun…” Jae Bum sudah terlanjur memeluknya dengan erat. Hangat dan nyaman, itulah yang Jiyeon rasakan saat ini. Pelukan Jae Bum begitu membuatnya terhanyut dan terbuai.

            “Oke, sekarang kau harus jelaskan satu hal padaku!” tuntut Jiyeon sambil melepaskan pelukannya.

Jae Bum terlihat agak bingung tetapi ia tetap mengangguk, “Oke. Tetapi satu hal yang mana?”

            “Aku tidak mungkin bisa melupakan namja yang kau maksud itu, karena dari dulu aku tidak pernah merasakan kehadiran namja itu. Kecuali kau, Jae Bum-ah. Dari dulu aku sudah melihatmu dan tidak pernah berpaling ke namja lain. Jadi, bisakah kau jelaskan siapa namja yang kau maksud itu?”

            “Namja putih itu. Aku melihatmu berkali-kali sedang berpelukan dengan namja itu!” jelas Jae Bum meyakinkan.

            “Yang mana?” tanya Jiyeon gemas. “Aku pernah memeluk beberapa namja seperti, ayahku, saudara-saudara namjaku, atau mungkin Wooyoung? Atau Mario?”

            “Siapa Mario?” tanya Jae Bum dengan alis berkerut.

            “Apa maksudmu namja itu adalah Mario?” tebak Jiyeon dengan nada terkejut.

            “Aku tidak tahu siapa nama namja itu,” jawab Jae Bum putus asa. “Pertama kali aku bertemu dengan namja itu saat kau bersama ibu dan adikmu sedang makan di sebuah restoran. Lalu aku juga pernah melihat kau dan namja itu sedang berpelukan di depan sekolah Tina saat malam hari. Belum lagi, yang terakhir kalinya sebelum aku kembali ke Korea, aku melihat kau sedang memeluk namja itu di depan apartemen Lee!”

            Jiyeon mencoba mengingat semua yang dikatakan Jae Bum. Dan tiba-tiba saja Jiyeon memekik. Terlalu kencang sehingga membuat Jae Bum bergidik terkejut.

            “Jadi, selama ini kau mengira aku sedang menjalin sebuah hubungan dengan Mario?” tanya Jiyeon mencoba menebak.

            “Sudah kubilang, aku tidak tahu nama namja itu.”

            “Namja yang kau maksud itu adalah Mario. Teman satu kuliahku. Dan mana mungkin aku pacaran dengannya disaat ia sedang sibuk mengejar Tina,” jelas Jiyeon.

            “Tina?”

            “Ne,” jawab Jiyeon. “Tina. Mereka sekarang sedang berpacaran. Dan bodoh sekali kalau selama ini kau menganggap aku punya hubungan spesial dengan Mario!”

            Jae Bum terlihat sangat bodoh. Pikirannya mendadak kacau. Jadi, selama ini ia sudah menuduh Jiyeon yang tidak-tidak. Tolol! Ia memutuskan untuk kembali ke Korea bahkan tinggal di Hongkong karena kesalahpahaman ini.

            “Jiyeon-ah, aku benar-benar bodoh,” desah Jae Bum, lagi-lagi ia mengurut keningnya.

            “Memang!”

            “Mianhae”

            “Jadi selama ini kau tidak menemuiku  karena kesalahpahaman ini?”

            Jae Bum mengangguk.

            “Omona, aku sudah menyebutmu namja brengsek…”

            “Muot?” tanya Jae Bum dengan nada agak keras. “Kau menyebutku namja brengsek?”

            “Tentunya saja. Kau sudah meninggalkanku selama delapan bulan. Aku berusaha percaya padamu dan tetap memegang kata-katamu saat itu, kalau kau akan kembali secepatnya.”

            Jae Bum menghela nafas panjang, “Sebenarnya sempat beberapa kali aku mengunjungimu. Dan setiap kunjunganku, aku selalu melihatmu sedang bersama namja itu dalam kondisi berpelukan. Wajar kan kalau aku berpikir yang tidak-tidak.”

            Sekarang semua sudah jelas. Tidak ada hubungan spesial antara Mario dan Jiyeon. Jae Bum bebas untuk memiliki yeoja itu. Tiba-tiba Tina dan Wooyoung masuk ke dalam kamar rawat Jae Bum untuk menengoknya. Disusul oleh Mario dengan wajah bodoh.

            “Aku phobia dengan rumah sakit. Tetapi aku tidak mau ditinggal diluar sendirian,” katanya dengan wajah pucat pasi.

            Tina mengelus pipinya, “Jangan bodoh. Bagaimana kalau nanti aku melahirkan di rumah sakit? Apa kau tidak mau masuk ke dalam untuk menemaniku?”

            “Muot?” tanya Mario dengan nada terkejut. “Apa kau berniat untuk menikah denganku?”

            Spontan mereka tertawa, kecuali Tina yang mulai pasang tampang cemberut. “Apa kau tidak mau menikahiku? Lalu untuk apa kita menjalin hubungan ini? Jadi kau menganggap hubungan kita ini tidak serius?” Tina ngambek lalu keluar dari kamar rawat disusul oleh Mario yang mencoba membujuknya.

            “Aku tidak yakin mereka bisa bertahan,” desah Wooyoung. “Dan untukmu Jae Bum, bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu dan aku semakin jengkel karena menyadari kau lebih tampan dari pertemuan kita sebelumnya.”

            Jae Bum tersenyum mendengar pujian untuk dirinya.

            “Menurutku saat ini kau lebih tampan daripada aku. Perban dan luka-luka konyol ini tentunya mengurangi ketampananku,” gurau Jae Bum.

            “Walaupun ketampananmu berkurang, aku yakin Jiyeon masih akan tetap menyukaimu,” goda Wooyoung yang mampu membuat wajah Jiyeon mendadak bersemu merah.

            “A-ku…angkat telepon dulu,” kata Jiyeon terbata-bata sambil keluar keluar kamar meninggalkan mereka berdua.

            “Apa kau dengar ponselnya berdering?” tanya Wooyoung dengan wajah bodoh. “Kupikir ia mencoba untuk kabur dan menutupi wajahnya yang memerah.”

            “Mungkin saja,” jawab Jae Bum dengan kelegaan tiada tara. Hatinya kini sudah lega. Jiyeon adalah miliknya saat ini. Dan tidak ada satu orang pun yang bisa memisahkan mereka. Jika benar ada orang yang berniat seperti itu kepada dirinya, demi Tuhan…Jae Bum akan melawan orang itu dan berusaha menjaga hubungannya dengan Jiyeon sampai kapanpun.

            Untuk masalah batasan yang terjadi diantara mereka, sepertinya Jiyeon sudah tidak memikirkannya. Kalau Jiyeon tidak memikirkannya, lalu buat apa Jae Bum ambil pusing dengan batasan-batasan itu. Batasan-batasan itu tidak ada artinya dibandingkan dengan besarnya rasa cinta mereka berdua.

            Jae Bum memutuskan untuk kembali tinggal di apartemen Lee setelah ia menyelesaikan kontrak kerjanya di Hongkong. Untuk Tina dan Wooyoung, sepertinya tahun ini mereka akan kembali ke Thailand untuk mengunjungi ibu dan ayahnya. Tidak lama kok, mereka akan segera kembali. Oh ya, sepertinya Mario dan Ayu akan ikut bersama pacarnya masing-masing ke sana, sekalian untuk memperkenalkan mereka kepada kedua orangtua Tina dan Wooyoung. Ji-Hwan dan Eun Hye memutuskan untuk memberi nama Min Hwa dan Min Nwa untuk kedua anak kembarnya yang cantik. Untuk Mr. Lee, mereka sekeluarga sepertinya akan mengadakan liburan ke China selama satu bulan penuh. Dan untuk Jiyeon, ia sudah terlalu gembira dengan kondisinya saat ini. Melihat semua orang bergembira itu merupakan hal yang sudah cukup. Dengan keberadaan Jae Bum disisinya, itu sudah mewakili semua kegembiraan-kegembiraan lain yang tidak didapatnya.

 THE END

Tunggu FFku selanjutnya, Saranghaeyo Jiyeon-ah (couple berdasarkan polling waktu itu)

About these ads

15 gagasan untuk “Apartemen Lee ~ Part 7 / FINAL”

  1. Whuaaaa. . .
    Snngny, s’muany berakhir bahagia.
    Keslhphmn JB dan Jiyeon jg udh terselesaikan.

    Mianhe y chingu, br komen d’part akhir, cozny aq bc lngsng dr 1-end, jd aq komen ny d’part ini doank.

    Mianhe. . #bow

  2. Chingu krang romantis nich ending_ny…knpa g ampe nikah ja jj coupleny…hehehe
    tpi tetep suka kok,,
    q tnggu y ff sarangheyo jiyeon-ah_ny…jngan lama publis part 1ny,ne chingu… B-)

  3. akhirnya kesalahpahaman selama ini terselesaikan..lucu juga ngebayangin muka mreka berdua yang terlihat bodo begitu mengetahui kenyataannya masing2 #ditimpukjiyeon #ditimpukjaebum
    semua penghuni apartemen lee berakhir bahagia..huaaaa TT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s