Apartemen Lee ~ Part 2



Title: Apartemen Lee

Author: Icha

Type: Chapter

Genre: Romance

Rating: T

My site :

http://allsynopsislook.wordpress.com/

http://allfanfictionlook.wordpress.com/

My Twitter : @icaque

FF  sebelumnya :

[oneshoot] Eomma

[chapter] Confessions Of Park Jiyeon [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9/end]

Apartemen Lee [Teaser] [Part 1]

Cast :

Park Jiyeon as Jiyeon

Im Jae Bum as Jae Bum / Jason

Additional Cast :

Tina Jeetaleela (Artis Thailand) as Tina (Tetangga di Apartemen Lee)

Wooyoung as Wooyoung (Kakak Tiri Tina)

Mario Maurer (Artis Thailand) as Mario

Yoon Eun Hye as Eun Hye (Tetangga di Apartemen Lee)

Kang Ji Hwan as Ji Hwan (Suami Eun Hye)

Lee Ji Eun as IU (Adik tiri Ji Hwan)

Etc

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

All Author P.O.V

“Jadi kau benar-benar Jason?” tanya Tina sambil mengobati luka di dahi cowok itu.

Jason mengangguk.

“Tetapi kau benar-benar mirip Im Jae Bum. Kalau tidak percaya akan kutunjukkan buktinya.” Tina segera pergi ke apartemennya untuk mengambil sebuah majalah. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa majalah yang ia maksud. “Lihat ini!”

Jiyeon dan Mr. Lee segera melihat majalah tersebut. Jiyeon berusaha membandingkannya dan benar, mereka mirip.

“Kau benar-benar Im Jae Bum, heh?” tanya Jiyeon dengan ekspresi agak tidak percaya.

“Kalian tidak akan memberitahu orang lain kan?” tanya Jason akhirnya.

“Nah! Benarkan kau itu Im Jae Bum?” tuding Tina.

Jason akhirnya mengakui.

“Aku benar-benar menyesal sudah memotong rambutku ini,” gerutu Jason.

“Lalu kenapa kau kabur? Dan memilih apartemenku ini sebagai tempat persembunyianmu?” tanya Mr. Lee.

“Lebih jauh lebih baik,” jawab Jason seadanya.

“Apa sih yang membuatmu bersembunyi dari semua orang?” tanya Jiyeon.

“Tentu saja karena skandal itu,” jawab Tina ambil alih.  “Apa kau benar-benar menghamili Krystal?” tanya Tina penasaran kepada Jason.

“Tentu saja tidak!” jawab Jason dengan nada tersinggung.

“Lalu kenapa kau bersembunyi? Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya saja?” tanya Tina lagi.

“Kalau kau jadi orang-orang di luar sana, apa kau langsung percaya jika aku berkata seperti itu?” tanya Jason balik.

Tina tidak bisa menjawabnya dan hanya meringis saja.

“Aku mohon kalian tidak memberitahu keberadaanku disini pada orang lain. Aku benar-benar minta tolong,” pinta Jason sungguh-sungguh.

“Kau menyuruh kami melindungi orang jahat sepertimu?” tanya Jiyeon ketus.

“Sudah kubilang aku tidak menghamilinya!”

“Hanya kita bertiga yang percaya pada kau. Orang-orang diluar sana percaya kau telah menghamili Krystal. Dan lambat laun satu penghuni apartemen ini akan tahu semua kebenarannya. Kau menyusahkan orang lain, tahu!” kata Jiyeon kesal.

“Aku akan mencari cara untuk memberitahu kebenarannya. Tetapi tidak saat ini. Aku ingin mereka semua percaya bahwa bukan aku pelakunya. Bukan aku yang menghamili Krystal!” jelas Jason meyakinkan. “Aku sudah menyuruh orangku untuk mencari bukti-bukti yang dapat membebaskanku dari kasus ini. Aku mohon kepada kalian, jebal… rahasiakan keberadaanku disini,” pinta Jason sekali lagi.

“Tidak kami beritahu pun orang lain bisa langsung menebak kalau kau Im Jae Bum dengan sekali lihat wajah dan potongan rambutmu itu,” kata Jiyeon.

Tina mengangguk setuju.

“Konyol sekali kau harus memakai rambut palsu kalau ingin keluar dari apartemen ini,” sahut Tina.

“Semua penghuni di apartemen ini lambat laun akan mengetahuinya. Yang sekarang kita pikirkan adalah bagaimana menjaga agar orang di luar apartemen ini tidak mengenal kau. Mau tidak mau kau harus menyamar jika suatu saat ingin keluar,” jelas Mr. Lee.

“Itu cara terbaik,” sahut Tina membenarkan.

Jason sangat berterima kasih kepada para penghuni apartemen, mereka sangat baik dan mau membantunya menjaga kerahasiaan identitasnya saat ini.

Jiyeon keluar dari apartemen Jason. Ia benar-benar tidak habis pikir kalau artis Korea yang sedang banyak dibicarakan saat ini sedang berada di dalam apartemen ini. Gila!

**

Jae Bum baru saja selesai bercukur pagi itu. Tiba-tiba saja ia merasa dirinya sangat lapar. Jae Bum mencoba untuk membuat sesuatu yang dapat dimakan. Jujur saja, ia tidak pandai memasak. Padahal ia sengaja mengisi kulkasnya penuh dengan bahan makanan. Tiba-tiba ia teringat akan Tina, tetangga di sebelahnya yang jago masak. Jae Bum memutuskan untuk meminta bantuan Tina.

Ia mengetuk pintu apartemen Tina berkali-kali tetapi tidak ada jawaban. Sampai akhirnya pintu apartemen Jiyeon terbuka.

“Sedang apa kau?” tanya Jiyeon dengan nada curiga

“Apa kau tahu Tina kemana?” tanya Jae Bum.

Tina? Cowok ini kok jadi dekat sekali dengan Tina ya? Pikir Jiyeon

“Tina sedang sekolah. Baru pulang jam dua siang,” jawab Jiyeon.

Jae Bum mengangguk.

“Kau ada perlu apa dengannya?” tanya Jiyeon penasaran.

“Apa kau perlu tahu?” tanya Jae Bum balik.

Astaga! Cowok ini benar-benar menyebalkan! Desah Jiyeon dalam hati.

“Sebaiknya begitu. Kau ini kan penghuni baru. Wajar kalau aku curiga dengan kelakuanmu itu. Lagipula, sejak kapan kau dekat dengan Tina?” Pertanyaan Jiyeon jadi melenceng jauh.

Tiba-tiba Jae Bum tertawa.

“Jadi kau curiga denganku?” tanya Jae Bum. “Omona! Kenapa aku harus bertemu dengan wanita macam dia,” gerutu Jae Bum.

“Mworago?”

Jae Bum berdeham.

“Lupakanlah,” kata Jae Bum. “Um…apa kau bisa memasak?” tanya Jae Bum.

“Tentu saja,” jawab Jiyeon.

“Apa kau bisa membantuku?”

**

Pagi itu Jiyeon membantu Jae Bum memasak di apartemennya sendiri. Maklumlah, peralatan masak di apartemen Jae Bum tidak lengkap. Jae Bum memandang salut ketika Jiyeon sedang memotong sebuah wortel dengan cepat. Tetapi ia tidak mau mengatakannya, takut si wanita ini jadi besar kepala.

Satu jam kemudian masakan Jiyeon telah jadi. Ia sengaja menaruh masakannya di dalam mangkuk saji berukuran besar miliknya. Setelah itu ia menyerahkan mangkuk berisi masakannya kepada Jae Bum.

“Kau pikir aku akan mengizinkanmu makan di sini?” kata Jiyeon.

Jae Bum tidak menyangka ia akan diperlakukan seperti ini oleh Jiyeon. Padahal Jiyeon sudah mengetahui kalau Jae Bum adalah artis Korea terkenal. Sepertinya status dan kepopuleran Jae Bum tidak berarti apa-apa di mata cewek ini.

“Terserah. Gumawo atas bantuannya,” kata Jae Bum lalu pergi keluar apartemen Jiyeon sambil membawa mangkuk makanannya.

Beberapa saat Jiyeon terdiam lalu ia memegang keningnya.

“Mengapa aku membantunya ya?” gerutu Jiyeon tidak percaya dengan dirinya sendiri.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia langsung mengangkatnya ketika nama adiknya tertera jelas di layar ponselnya.

“Kamu harus siap-siap, Eomma mau datang ke Jepang!” jerit Jenie panik.

Tiba-tiba saja kepanikan menjalari tubuh Jiyeon. Beberapa saat ia tidak mampu menjawab telepon dari adiknya.

“Sekarang bukan waktunya untuk shyok! Eomma ke sana karena berniat memberitahumu langsung tentang perjodohanmu!” Suara Jenie terdengar lagi.

“Omona!” desah Jiyeon.

**

Tepat jam tujuh malam, ibu Jiyeon bersama adiknya, Jenie, datang dari Seoul, Korea ke Osaka, Jepang, hanya untuk menjenguk anak sulungnya itu sekalian memberitahu berita yang menurut Eommanya berita baik.

“Nak, apa kau tidak salah menumpuk pakaian kotor seperti ini?” tanya Eomma Jiyeon.

Jiyeon hanya tersenyum malu lalu segera menggeret Eommanya untuk duduk di ruang tamu. Eommanya tidak boleh melihat keadaan kamar mandinya. Bisa-bisa ia dipulangkan ke Seoul.

“Jadi tujuan Eomma datang ke si…?” Pertanyaan Jiyeon terputus karena melihat ekspresi wajah Eommanya yang begitu sumringah. Ini pertanda buruk untuk dirinya.

“Sebelum Eomma mulai, Eomma ingin bertanya satu hal,” kata Eomma Jiyeon memulai percakapan.

“Ne?” tanya Jiyeon amat gugup.

“Apakah saat ini kamu sedang menjalin hubungan dengan seseorang?” tanya Eomma Jiyeon.

Jiyeon mati kutu dan ia hanya bisa meringis sambil memandang wajah Eommanya.

“Eomma berniat menjodohkanmu dengan anak dari sahabat Appa di Perancis,” jelas Eomma Jiyeon dengan penuh senyum.

“Andwae!” jawab Jiyeon tanpa sadar.

“Andwae?” Dahi Eomma Jiyeon berkerut.

“Eomma tidak bisa seenaknya menjodohkanku dengan namja yang tidak kukenal!” protes Jiyeon.

“Jiyeon-ah, Eomma dan Appa sangat mengenalnya. Itu tidak jadi masalah buat kami. Kamu dengan pria itu pasti akan melewati tahap pengenalan lebih dulu,” kata Eomma Jiyeon mencoba memberi pengertian.

Jiyeon menggeleng.“Aku menolak perjodohan ini!”

“Jiyeon-ah!” bentak Eomma Jiyeon.

Suasana di dalam apartemen Jiyeon jadi agak tegang.

“Araseo, Eomma tidak perlu mengeluarkan suara keras untuk persoalan ini,” kata Eomma Jiyeon. “Bisa kau jelaskan alasan kau menolak perjodohan ini?” tanya Eomma Jiyeon mencoba bijaksana.

“A-aku…” Suara Jiyeon terbata-bata. “Aku sudah punya pacar!” jawab Jiyeon akhirnya.

“Muot?” tanya Jenie. “Onje?”

Jiyeon mencoba memberi kode agar adiknya diam.

“Kau sungguh sudah punya pacar?” tanya Eomma Jiyeon agak terkejut.

Jiyeon mengangguk perlahan.

Eomma Jiyeon menghembuskan nafas pelan.

“Jenie-ah, apa kau sudah tahu pasal pacar kakakmu ini?” tanya Eomma Jiyeon kepada anak bungsunya.

“Aku sama sekali tidak tahu,” jawab Jenie. “Eonnie…kau benar-benar sudah punya pacar?” tanya Jenie berbisik pada Jiyeon.

“Psst…diam kau,” bisik Jiyeon pelan.

“Araseo…” Lagi-lagi Eomma Jiyeon menghela nafas pelan. “Ketika Eomma dan Appa memutuskan untuk merencanakan perjodohan ini, kami berdua tahu apa saja konsekuensi yang harus kami hadapi. Salah satunya yaitu penolakan darimu. Dan benar sekali, kamu menolak perjodohan ini atas dasar kamu sudah mempunyai pacar. Eomma hargai keputusanmu.”

Jiyeon bernafas lega.

“Tetapi…” lanjut Eomma Jiyeon.

Jiyeon menahan hembusan nafasnya.

“Eomma ingin mengenal siapa pacarmu itu.”

Wajah Jiyeon mendadak lesu total.

“Eomma…” desah Jiyeon.

 “Eomma perlu tahu seperti apa namja pilihanmu,” kata Eomma Jiyeon tegas. “Eomma juga perlu tahu asal usul namja tersebut. Apa ia dari keluarga baik-baik. Dan apa pekerjaannya…”

“Eomma!” Jiyeon memotong ucapan Eommanya. “Aku baru berpacaran dan tidak berniat menikah dengannya. Kenapa harus serumit ini?” tanya Jiyeon.

Eomma Jiyeon mengurut keningnya.

“Kau tahu Jiyeon-ah, Appa dan Eomma tidak bisa membiarkan kamu bergaul dengan orang yang salah. Memberikan kamu kesempatan untuk mencari calon pendampingmu sendiri itu sudah kebijaksanaan besar dari kami. Dan sekarang ini Eomma hanya minta satu hal saja dari kamu. Besok siang, Eomma ingin bertemu dengan pacarmu. Kamu yang pilih tempatnya,” jelas Eomma Jiyeon.

“Eomma…”

“Itu keputusan terakhir, nak,” kata Eomma Jiyeon sambil menutup kedua telinganya. “Malam ini Eomma akan menginap disini. Jenie, kamu yakin sudah memasukkan masker wajah Eomma sebelum kita berangkat?” tanya Eomma Jiyeon sambil mengaduk-aduk isi kopernya.

Di tempat duduknya, Jiyeon berusaha menenangkan dirinya. Ia memijat kepalanya yang mulai sakit lagi. Ini masalah namanya. Ia sama sekali tidak punya pacar. Siapa yang harus ia kenalkan kepada Eommanya? Tidak mungkin dalam semalam ia menemukan seorang namja yang ia sewa sebagai pacarnya untuk bertemu dengan Eommanya besok siang. Apa mungkin ia harus meminta pertolongan Wooyoung? Tidak! Eommanya sudah mengenal Wooyoung, bahkan sangat mengenalnya. Bagaimana dengan si penghuni apartemen 703? Tiba-tiba Jiyeon tertawa keras setelah memikirkan hal itu. Ia belum gila kan sehingga memutuskan si artis menyebalkan itu yang menjadi pacar sewaannya. Benar-benar tidak mungkin.

Tiba-tiba ponsel Jiyeon berdering. Ia melihat sebuah pesan singkat dari teman kuliahnya, Mario. Sesaat Jiyeon tersenyum setelah membaca pesan singkat dari Mario. Ia berharap rencananya berhasil.

**

Besok siangnya Jiyeon, Jenie dan Eommanya mengadakan temu janji dengan pacar yang disewa Jiyeon di sebuah tempat makan yang paling dekat dengan apartemennya. Lima belas menit kemudian Mario datang dan segera menuju meja yang sudah dipesan.

Jiyeon segera memperkenalkan Mario dengan Eommanya. Jiyeon bisa melihat ekspresi wajah Eommanya yang sedang menilai pacar sewaannya itu. Jiyeon sedikit gugup dengan keadaan ini. Ia takut Eommanya menilai yang tidak-tidak terhadap Mario. Sepertinya dugaannya salah. Eommanya tersenyum lebar pada Mario.

“Jadi kamu teman kuliah Jiyeon?” tanya Eomma Jiyeon.

“Ne,” jawab Mario.

Eomma Jiyeon mengangguk.

“Baiklah, sebelum memulai obrolan, lebih baik kita pesan makanan. Pelayan!”  seru Eomma Jiyeon memanggil pelayan restoran.

Obrolan di meja makan berlangsung dengan damai. Tidak ada kata-kata pedas yang keluar dari mulut Eomma Jiyeon kepada Mario. Sepertinya Eommanya benar-benar menyukai Mario.

“Kalian sudah pacaran selama enam bulan?” tanya Eomma Jiyeon terkejut. “Kamu sungguh keterlaluan, Jiyeon-ah. Dua bulan yang lalu Eomma pernah bertanya padamu kan, apa kau sudah punya pacar atau belum. Kau ingat? Kau bilang kau belum punya pacar,” protes Eomma Jiyeon.

“Eomma…aku masih malu saat itu,” jawab Jiyeon seadanya.

“Lalu apa yang kamu sukai dari anak saya?” Pertanyaan Eomma Jiyeon yang satu ini tidak diduga-duga oleh Jiyeon dan Mario. Mendadak Mario gelagapan bingung mau menjawab apa.

“Eomma kenapa bertanya hal seperti itu?” protes Jiyeon.

“Jiyeon-ah wanita yang baik dan cantik,” jawab Mario. “Sebelumnya kita berdua adalah teman dekat. Entah mengapa kedekatan kita justru berbuah lain. Saya menyukainya karena saya merasa Jiyeon adalah wanita yang cocok dengan saya,” tambah Mario. Jiyeon agak sedikit terkejut dengan pernyataan Mario tentang dirinya. Oh bukan merasa tersanjung maksudnya, Jiyeon heran saja, Mario bisa membual selancar itu terhadap Eommanya. Dan sepertinya Eomma Jiyeon tidak terlihat curiga. Justru Eommanya senang mendengar jawaban dari mulut Mario.

Obrolan mereka berlangsung cukup lama. Tepat pukul tiga sore, Eomma Jiyeon dan Jenie memutuskan untuk kembali ke apartemen dan membiarkan Jiyeon bersama Mario melanjutkan kencannya.

“Kau benar-benar hebat!” puji Jiyeon.

Mario menggeleng, “Benar-benar susah untuk berbohong. Aku benar-benar menjaga mulutku agar tidak salah bicara.”

“Untuk yang kedua kalinya aku menyusahkanmu. Mianhae…” kata Jiyeon merasa bersalah.

“Gwaenchanayo,” jawab Mario. (catatan : Mario berasal dari Thailand, tetapi bahasa Koreanya sangat fasih di fanfict ini).

“Gumawo. Kalau tidak ada kau, aku sempat berpikir akan menjadikan Mr. Lee sebagai pacarku,” kata Jiyeon membuat lelucon.

Mario dan Jiyeon sama-sama tertawa.

“Jiyeon-ah, kamu ingat smsku yang semalam?” tanya Mario.

“Ahh ne, mianhae aku lupa membalasnya,” kata Jiyeon setelah ingat akan pesan singkat yang dikirim Mario. “Kapan kau bertemu dengan Tina?” tanya Jiyeon.

“Sewaktu aku pulang dari apartemenmu setelah mengambil bukumu itu,” jawab Mario. “Kami berpapasan di tangga.”

“Joh-ahaneunga? (Kau menyukainya?) ” tanya Jiyeon mencoba menebak dari ekspresi Mario saat ini.

Mendadak wajah Mario merona merah.

“Entah mengapa setelah pertemuan awal itu, aku tidak bisa melupakan wajahnya,” jawab Mario mengakuinya. “Jujur saja, gejolak perasaanku disini tidak pernah kurasakan saat pertemuan awalku dengan pacar-pacarku yang sebelumnya,” kata Mario sambil menunjuk dadanya sendiri.

Jiyeon mengangguk. “Araseo. Kalau kau serius dengan perasaanmu itu, mengapa kau tidak mencoba mengenalnya? Aku akan membantumu.” Mario senang bukan main mendengar ucapan Jiyeon.

Mario tersenyum, “Aku akan berusaha mendapatkannya.”

Setelah itu Mario bersedia mengantarkan Jiyeon ke kampus karena Jiyeon punya janji bertemu dengan dosen pembimbingnya.

**

Jae Bum menyalakan televisinya setelah memberikan segelas air pada kakak sepupunya yang baru datang dari Busan, Korea.

“Kenapa Hyong baru datang malam hari?” tanya Jae Bum kepada Im Joo Hwan.

“Aku tidak mungkin datang pagi atau siang hari. Itu bisa berbahaya untukmu. Para wartawan gila itu terus saja membuntutiku siang dan malam. Kau lihat ini!” Im Joo Hwan memperlihatkan masker wajah, topi dan kaca mata hitam yang dibelinya sebelum ia datang ke Osaka. “Gara-gara memakai benda ini, pemilik apartemen dibawah nyaris menyangka aku pencuri.”

Jae Bum tertawa mendengarnya.

“Mana mungkin ada pencuri setampan aku,” sambung Im Joo Hwan.

“Ne, aku sangat berterima kasih atas pengorbanan Hyong untukku,” kata Jae Bum dengan nada menyesal.

“Sudahlah, lupakan saja,” kata Im Joo Hwan. “Apa kau punya soju?” tanya Im Joo Hwan  berharap.

“Tidak ada. Aku belum belanja banyak. Kau tahu, untuk keluar saja aku harus mencari waktu yang tepat” jawab Jae Bum sambil pergi ke dapur. “Minum ini saja.” Jae Bum memberikan minuman kaleng yang lain.

“Ya sudahlah. Daripada tidak ada sama sekali,” keluh Im Joo Hwan.

“Jadi, Hyong, bagaimana perkembangannya?” tanya Jae Bum memulai pembicaraan.

“Aku punya berita baik untukmu. Dua hari yang lalu, saat aku dan beberapa temanku mengadakan sebuah pesta, tidak sengaja aku melihat Krystal dengan namja lain sedang berkencan. Dan kau tahu? Sepertinya yeoja itu lupa memakai tambalan pada perutnya,” jelas Im Joo Hwan menggebu-gebu.

“Jinjihaeo?” tanya Jae Bum terkejut.

“Ne. Yeoja itu bodoh sekali. Tetapi kebodohannya sangat menguntungkanmu,” tambah Im Joo Hwan. “Aku sudah merekam Krystal saat malam itu,” Im Joo Hwan menyerahkan sebuah handycam miliknya.

Jae Bum langsung menyalakannya dan melihatnya langsung. Tiba-tiba ia tersenyum. “Dengan ini, aku bisa terbebas dari semua tuduhannya kepadaku,” gumam Jae Bum.

“Tentu saja. Kemenanganmu semakin dekat. Dan aku sudah benar-benar ingin bebas tanpa wartawan yang terus menguntitku,” keluh Im Joo Hwan.

Tiba-tiba Jae Bum merasa ada sesuatu yang aneh.

Hyong, saat pesta itu apa kau tidak melihat adanya wartawan? Kalau keberadaan Krystal dengan perut ratanya sudah diketahui oleh para wartawan, itu akan lebih menguntungkanku. Aku tidak perlu susah-susah mencari cara untuk membongkar semua kebohongannya kepada para media,” tanya Jae Bum.

Im Joo Hwan mengangguk, “Betul juga. Tetapi aku tidak melihat satu wartawan pun saat pesta malam itu. Kalau memang benar ada satu saja  wartawan yang melihatnya, pasti beritanya langsung masuk media kemarin pagi,” jawab Im Joo Hwan.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu apartemen Jae Bum. Jae Bum mendapati Jiyeon dengan wajah berkeringat saat ia membuka pintu apartemennya.

“A-ada…ada wartawan di depan apartemen ini,” jelas Jiyeon dengan nafas tersengal-sengal.

**

Malam itu Mario mengantar Jiyeon pulang. Jiyeon memintanya untuk menurunkannya di depan mini market. Ia mau membeli beberapa bahan makanan untuk persediaan di apartemennya selama Eommanya menginap. Selesai berbelanja, Jiyeon memutuskan untuk berjalan kaki seperti biasa. Sekitar sepuluh meter dari apartemennya, ia melihat empat atau mungkin lima orang sedang berkumpul di depan apartemen Lee. Tiga diantaranya memegang kamera yang dipanggul di atas bahunya. Mereka semua terlihat seperti wartawan.

Pikiran buruk langsung menghinggapi kepala Jiyeon. Pasti wartawan itu ingin bertemu dengan Jae Bum. Tetapi kenapa mereka bisa tahu Jae Bum berada di dalam apartemen Lee? Siapa yang memberitahunya?

Ketika Jiyeon ingin masuk ke dalam apartemen, salah satu dari mereka menghampiri Jiyeon.

“Apa benar Im Jae Bum, artis Korea yang sedang terlibat skandal dengan Krystal sedang berada di dalam sana?” tanya yang berambut panjang. Tiga kamera langsung tersorot ke arah Jiyeon.

“Gomennasai (Maaf)…saya tidak tahu apa-apa. Im siapa? Gomen…saya hanya kenal artis lokal (artis Jepang),” jawab Jiyeon terbata-bata.

Ketika Jiyeon membuka pintu, salah satu dari mereka ada yang berusaha menerobos masuk. Jiyeon bisa merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.

“Ada apa ini?” tanya Mr. Lee dengan wajah marah.

“Kami semua berhasil mengikuti Im Joo Hwan sampai akhirnya ia masuk ke dalam apartemen ini. Pasti di dalam sana Im Joo Hwan sedang bersama Im Jae Bum. Kami ingin bertemu dengannya. Kami butuh pengakuannya!” Si wanita yang tadi angkat bicara.

“Saya tidak kenal dengan Im Jae Bum atau Im Joo Hwan. Tidak ada penghuni apartemen saya yang bernama aneh seperti itu!” jelas Mr. Lee. “Tolong jangan buat keributan di apartemen ataupun di wilayah sini. Saya bisa memanggil petugas keamanan untuk mengusir kalian dari sini. Lebih baik kalian pergi!” kata Mr. Lee setelah itu ia menutup pintu.

Jiyeon menghela nafas lega.

“Untung ada kau,” kata Jiyeon.

“Apa mereka wartawan yang sedang mencari Jason?” tanya Fei diatas kursi rodanya.

Jiyeon mengangguk.

“Jason harus tahu masalah ini. Ia harus waspada. Wartawan-wartawan gila itu pasti tidak akan menyerah. Bahkan mungkin mereka akan mencoba menerobos masuk jika melihat adanya kesempatan itu,” jelas Mr. Lee.

Dengan segera Jiyeon bergegas pergi ke lantai dua. Ia mengetuk pintu apartemen Jae Bum berkali-kali. Beberapa saat kemudian pintu apartemen Jae Bum terbuka.

“A-ada…ada wartawan di depan apartemen ini,” jelas Jiyeon dengan nafas tersengal-sengal.

“Muot?” tanya Jae Bum panik. “Hyong, bagaimana ini?” tanya Jae Bum kepada seseorang di dalam apartemennya.

Im Joo Hwan menghampiri Jae Bum.

“Mereka pasti mengikuti aku. Sial!” gerutu Im Joo Hwan. “Padahal aku sudah sangat berhati-hati untuk menemuimu.”

 “Mr. Lee berhasil menahan mereka. Tetapi sepertinya mereka semua tidak akan menyerah,” jelas Jiyeon.

Im Joo Hwan berjalan ke arah jendela dan melihat ke luar apartemen. Ia mengenal salah satu dari mereka.

“Ada Jung Min di bawah sana. Ternyata mereka membawa wartawan dari Korea. Sial!” gerutu Im Joo Hwan.

“Apa mungkin aku harus keluar dari apartemen ini?” tanya Jae Bum kepada Im Joo Hwan.

Im Joo Hwan hanya diam dan terlihat sedang berpikir.

Tiba-tiba dari bawah tangga muncul Tina dan Wooyoung. Wajah kakak beradik itu sama paniknya dengan wajah Jiyeon.

“Salah satu dari mereka brutal sekali. Mereka memaksa masuk. Mr. Lee langsung mengancamnya dengan tongkat baseballnya,” jelas Wooyoung.

“Sebaiknya kau keluar dari apartemen ini,” usul Tina.

“Aku harus keluar lewat mana?” tanya Jae Bum bingung.

“Ada jalan keluar lain selain pintu masuk utama,” sahut Jiyeon. “Aku bisa membantumu keluar lewat pintu tersebut.”

“Tetapi kita butuh mobil untuk membawa dia pergi,” kata Tina lagi.

“Ne, aku butuh mobil,” desah Jae Bum resah.

“Bagaimana kalau naik mobil Ji-Hwan-hyong?” usul Wooyoung.

Akhirnya mereka setuju kalau Jae Bum keluar dari apartemen tersebut dengan bantuan mobil Ji-Hwan. Setelah memberi penjelasan singkat, Ji-Hwan setuju untuk membantu Jae Bum.

“Tetapi kita mau membawamu kemana?” tanya Ji-Hwan bingung.

Tiba-tiba Jenie keluar dari apartemennya dan memekik senang melihat artis idolanya sedang berada di hadapannya saat ini.

“Im Jae Bum?” tanya Jenie nyaris pingsan. “Omo! Ini bukan mimpi kan?!” Jenie menepuk wajahnya sendiri.

“Bagaimana kalau ke rumah nenekku?” usul Jiyeon akhirnya.

“Ke rumah Halmoni?” tanya Jenie bingung. “Siapa yang mau ke rumah Halmoni? Apakah kau Oppa?” tanya Jenie berbinar-binar pada Jae Bum.

Setelah meminta persetujuan dari Eomma Jiyeon, akhirnya mereka setuju untuk membawa Jae Bum ke rumah nenek Jiyeon. Nenek Jiyeon tinggal di Osaka, Jepang. Tetapi jarak dari rumahnya dengan Apartemen Lee cukup jauh. Sedangkan Im Joo hwan, wartawan sudah menangkap basah dirinya masuk ke dalam apartemen Lee. Mau tak mau Im Joo hwan harus memberikan penjelasan kepada para wartawan itu.

Jiyeon membawa Jae Bum pergi menuju pintu darurat yang berada di belakang gedung apartemen ini. Sedangkan Ji Hwan sedang mengambil mobilnya yang diparkir di garasi sebelah apartemen ini. Im Joo Hwan mencoba mengalihkan perhatian wartawan. Ia menjelaskan tujuannya pergi ke Osaka adalah ingin bertemu dengan kekasih barunya. Mau tak mau Tina harus rela berpura-pura menjadi kekasih baru Im Joo Hwan.

Jiyeon dan Jae Bum berhasil masuk ke dalam mobil Ji-Hwan lewat jalan belakang. Mereka akhirnya pergi menuju rumah nenek Jiyeon.

“Mianhae sudah menyusahkan kalian semua.” Jae Bum bersuara.

“Gwaenchanayo. Kehidupan di apartemen Lee memang selalu ramai seperti ini. Kami semua sudah terbiasa membantu jika salah satu dari kami ada yang tertimpa masalah,” jelas Ji-Hwan.

“Pakai ini.” Jiyeon memberikan topi, kacamata hitam dan masker wajah kepada Jae Bum. “Aku mengambilnya di meja ruang tamumu. Kau pasti lupa kau membutuhkan benda seperti ini.”

Jae Bum menerimanya. Ini topi, kacamata dan masker wajah milik Im Joo Hwan, kakak sepupunya.

“Jiyeon-ssi,” panggil Jae Bum pelan.

Jiyeon menoleh ke arah Jae Bum.

“Gamsahamnida…” ucap Jae Bum.

Jiyeon hanya mengangguk sesaat lalu kembali menatap ke depan.

To Be Continue

36 gagasan untuk “Apartemen Lee ~ Part 2”

  1. dasar krys.. jd dia cuma pura2.. #menyusahkan *plaakkkk
    q kira jiyeon bakal minta bantuan jb buat jd pacarnya.. jiyeon sikapnya ama jb biasa aja ya,, pdhl dia udah tau low jb artis.. *low q pasti udah heboh n’ pinsan ditempat* #abaikan
    jb udah mulai suka kah ama ji?? always ditunggu next partnya…

  2. jd krys disini cuma pura2 doank gitu dihamilin jb?
    astaga, keterlaluan banget sih tp dasar artis, bikin sensasi yg aneh2 donk..
    tp itu jiyeon sikapny ama jb bikin ngakak, walau seorang artis dpn mata, ttp memperlakukan layaknya org biasa..salut salut
    dsini byk bgt y sandiwaranya, banyak kepura-puraan..kekeke
    dtunggu lanjutanny lg ya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s