Hate You, Love You 2/2


Hate you, Love you

Poster by : YeonNia ART

Title                 : Hate you, Love you (It started with a kiss)
Author             : Cherry Anastasia (cherryesung)
Casts                : Park Jiyeon, Yoo Seung Ho, Choi Min Ho
Genre              : Romance
Rating              : Teen
Length             : Two Shot
Part                 : 2/2
Backsound       : Super Junior – Hate u Love u, SNSD – Girlfriend, G.Na – Kiss Me
BACA : Part 1/2

P.S       : Hohohoo *evil laugh :D Aku kembali lagii dengan FF abalku yaitu ‘Hate you, Love you’. Ini adalah part 2 alias ending dari Hate u Love u, TARAAA XD *FF abal aja bangga. Oh iyaa, comment kalian dibutuhin bangeet :D aku makasih banget deh pokoknya bagi yang udah baca part 1 nya, karena uda mau baca n comment d ff abalkuu. Gomawoo :* ~chuu
Maaf kalo part ini makin gaje aja -__- karena pada saat pembuatan ff ini, aku lagi yadong”nya –nyahaahaa.. Jadi disini bakal ada adegan kissing lagi :p mian yaah, wakakak ^^ Okeeh, happy reading all :p LEAVE A COMMENT YAAAHH!! :D –cherryesung

***

♠Author’s P.O.V.♠

Dengan terengah-engah, akhirnya Jiyeon sampai juga di depan Namsan Tower. Jiyeon langsung duduk di kursi di bawah sebuah pohon yang daunnya sedang berguguran. Beberapa daun kering jatuh di kepala Jiyeon. Angin berhembus lembut mengenai wajah Jiyeon-aang kedinginan. Mata Jiyeon sejak tadi mencari-cari ke sekelilingnya, seorang pria yang wajahnya amat Jiyeon hafal, Seung Ho. Tetapi sampai sekarang mata Jiyeon belum menemukan sosok yang sejak tadi ia cari-cari. Mungkin dia terlalu lama menunggu, lalu memutuskan untuk pulang, pikir Jiyeon. Jiyeon menghela nafas, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi taman. Tiba-tiba…

Semuanya menjadi gelap…

Jiyeon tidak pingsan, tetapi ia merasakan sebuah tangan yang menutupi matanya. “Neo nugu ya?” seru Jiyeon karena tangan itu terus menutupi mata Jiyeon. “Ya, otak serangga,” kata namja itu yang membuat Jiyeon langsung tahu siapa yang menutupi matanya. “Yoo Seung Ho! Lepaskan!” seru Jiyeon, kemudian Seung Ho langsung menurunkan tangannya. “Park Jiyeon, kau telat empat puluh lima menit di kencan pertama ini,” kata Seung Ho sambil melihat jam tangannya.

“Kencan?”

“Kau pikir aku mengajakmu kesini untuk apa?”

“Molla,” jawab Jiyeon.

“Tadi aku habis membeli ini,” Seung Ho duduk di samping Jiyeon lalu mengangkat sebuah plastik belanjaan dan juga sebuah DVD.

“Kencannya tidak jadi. Bagaimana kalau kita nonton ini saja? Eottae?” kata Seung Ho sambil menyerahkan DVD itu ke tangan Jiyeon.

“YA! Kau ingin membuatku tidak bisa tidur dengan menonton ini?” Jiyeon menatap Seung Ho tajam.

“Dasar otak serangga penakut,” kata Seung Ho santai. “Kau tidak pernah nonton film horror ya? Ternyata selain bodoh kau juga penakut,” lanjut Seung Ho dengan nada mengejek. Jiyeon menghela nafas pelan.
“Geurae! Aku tidak penakut, dasar otak udang! Kalau aku sama sekali tidak takut menontonnya, kau harus membayarku 10.000 won! Eottae?” kata Jiyeon sambil menatap Seung Ho dengan tatapan kesal.

“Geuraeeee!! Kalau kau takut, kau harus membayarku juga. Setiap satu teriakan yang kau keluarkan, kau harus membayarku 10.000 won. Call?”

“Setiap teriakan? Geurae, call!”

“Joa, aku tadi membeli satu botol air putih, satu bungkus snack, satu kotak coklat, dan satu kaleng soda,” kata Seung Ho sambil memainkan jarinya.

“YA! Kenapa kau hanya membeli satu, satu, dan satu?”seru Jiyeon.

“Ya, otak serangga! Di dompetku sekarang hanya tersisa 10.000 won! Aku belum diberikan uang saku lagi oleh abeoji ku,” ujar Seung Ho kesal.

“Hahaha, geurae, kalau aku menang, artinya kau tidak memiliki uang satu won pun di dompetmu, hahaha,” kata Jiyeon sambil tertawa.

“Ya, Park Jiyeon,” panggil Seung Ho sambil memandang lurus terhadap sesuatu.

“Wae?” tanya Jiyeon ketus.

“A… ani, tidak jadi. Ya, Park Jiyeon. Kaja, sebelum orang itu melihat kita,” kata Seung Ho setengah berbisik, lalu meraih tangan Jiyeon dan menariknya.

“Yoo Seung Ho!” baru saja Jiyeon dan Seung Ho ingin melangkah pergi, tiba-tiba ada seseorang di belakang sana yang memanggil nama Seung Ho. Seung Ho menghela nafas, lalu menoleh ke belakang.

“Seung Ho ah! Ini akan jadi berita heboh di kelas, kucing dan anjing kini telah berdamai!” kata seorang namja yang tidak lain adalah Kang Min Hyuk, teman Seung Ho.

“YAA!” teriak Seung Ho kesal.

“Geurae, aku tidak akan mengganggu kencan kalian berdua, annyeong!” kata Min Hyuk lalu berjalan meninggalkan Jiyeon dan Seung Ho.

“Kaja,” kata Seung Ho, lalu mulai berjalan menuju rumah, karena jarak Namsan Tower dengan rumah mereka tidak terlalu jauh, berjalan kaki pun tidak akan menghabiskan waktu lebih dari lima belas menit.

Selama perjalanan pulang, Jiyeon terus kepikiran oleh kata-kata Min Hyuk tadi. Berdamai? Jiyeon sendiri tidak tahu ini dikategorikan sudah berdamai atau masih berperang. Tetapi, sejak kemarin hubungan Jiyeon dan Seung Ho jadi lebih membaik. Seung Ho yang tidak pernah mengatakan kata maaf, kemarin malah bilang maaf pada Jiyeon, padahal sebenarnya Seung Ho tidak bersalah. Saking sibuknya Jiyeon dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba… BRAK!

“Park Jiyeon!! Gwanchanha?? Apheo??”

Seung Ho tiba-tiba terkejut ketika Jiyeon tiba-tiba terjatuh tersandung batu. Padahal biasanya jika Jiyeon terjatuh Seung Ho malah menertawakannya. “A.. ani, gwaenchanha,” kata Jiyeon pelan. “YA!! Apanya yang gwaenchanha? Kakimu berdarah seperti itu! YA!!” seru Seung Ho sambil memegang lutut Jiyeon-aang berdarah. Darah mengalir lumayan banyak dari kedua lututnya.

Seung Ho lalu menyerahkan plastik belanjaannya pada Jiyeon. “Pegang,” kata Seung Ho lalu jongkok membelakangi Jiyeon. “Naik,” kata Seung Ho lagi yang membuat Jiyeon tiba-tiba melongo. “YA!!! Tunggu apa lagi? Ppali!” seru Seung Ho. “Kau… Mau menggendongku?” tanya Jiyeon tidak yakin. “Otak serangga! Ppali!!” teriak Seung Ho kesal.  “N.. ne,” kata Jiyeon pelan.

“Ya, kau sangat berat,” kata Seung Ho sambil berjalan. “Geuraee, turunkan aku!!” teriak Jiyeon. “Shireo, ani, kau tidak berat,” kata Seung Ho sambil terus berjalan. Sebenanya Jiyeon tidak berat, hanya saja Seung Ho ingin membuat Jiyeon kesal dengan mengejeknya.

***

♠Jiyeon’s P.O.V.♠

*TOK TOK TOK*

“Eommaaaa!!” Seung Ho mengetuk pintu rumahku, dan aku berteriak supaya eomma membukakan pintu untukku. Tak lama, terdengar derap langkah manusia dari dalam sana, dan membuka pintunya.

“Seung Ho-yaa? Jiyeon-aa?” eomma ku menatapku dan si otak udang bergantian dengan tatapan heran. Tentu saja, eomma mungkin terkejut karena baru dua hari kami saling kenal, sudah dekat seperti ini.

“Ne, eomeonim. Tadi Jiyeon terjatuh, kakinya memar. Makanya aku menggendongnya,” jelas Seung Ho. Seung Ho selalu saja bersikap sopan di depan eomma ku.

“Jeongmal kamsahamnida, Seung Ho! Jiyeon-aa, gwaenchanha?” tanya eomma ku khawatir. Aku lalu turun dari punggung Seung Ho.

“Gwaenchanha, eomma. Gomawooo, Seung Ho ssiiii!” kataku dengan bersikap seolah-olah manis. Padahal kalau aku mengingat semua perbuatan iseng yang dia lakukan padaku, rasanya aku benar-benar tidak mau bersikap manis atau lembut padanya. Tetapi, berhubung dia telah menolongku, jadi… Ya begitulah. Walaupun selama ini dia sangat menyebalkan, tetapi entah kenapa aku tak pernah bisa membencinya. Walaupun dia terlihat buruk, sebenarnya kalau diperhatikan dia tidak buruk juga.

“Eomeonim, bisa aku minta obat luka?” tanya Seung Ho pada eomma ku. Aku tidak tahu, sejak kapan dia berubah menjadi manusia yang begitu baik seperti ini.

“Ne, jamkkanman,” kata eomma ku lalu mengambil kotak P3K yang berada tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang.

“Ige,” eomma ku memberikan kotak P3K ke tangan Seung Ho.

“Gomapseumnida,” kata Seung Ho sambil menunduk sopan. “Kaja,” kata Seung Ho lalu meraih tanganku.

“Kemana?” tanyaku bingung. “Mengobati lukamu, nonton film yang tadi aku beli, dan makan,” katanya sambil memainkan jari-jarinya. “Jaaaa,” katanya lalu menarikku ke kamarnya.

Setelah mengobati lututku yang berdarah, Seung Ho meraih DVD yang baru saja ia beli tadi. “Tahanlah teriakanmu,” kata Seung Ho sambil memasukkan dvd ke dalam dvd playernya. “Neee,” jawabku sambil mengambil air putih dari plastik belanjaan milik Seung Ho. Aku membuka tutup botolnya, lalu meminum airnya sampai airnya hanya tersisa setengah botol. “YA!! Sisakan untukku airnya,” kata Seung Ho sambil duduk di sebelahku. Astaga namja ini, siapa suruh dia hanya membeli satu botol? Dasar pelit! Tahu begitu, tadi aku ke dapur dulu untuk mengambil makanan.

“YAAAAAAA!!” film baru mulai saja aku sudah berteriak histeris, karena tiba-tiba di layar televisi muncul gambar sesosok hantu yang menyeramkan. Refleks, saking kagetnya aku langsung memeluk erat orang yang berada di sebelahku, Yoo Seung Ho. “Ciihh, dasar penakut. Baru mulai saja sudah berteriak, kau jelas kalah,” kata Seung Ho dengan nada meledek. Aku tahu, pasti akan seperti ini. Karena aku itu benar-benar takut dengan yang namanya ‘hantu’, nonton film horror saja aku tidak pernah.

♠Author’s P.O.V.♠

Awalnya Seung Ho hanya senyum-senyum sendiri ketika tiba-tiba Jiyeon memeluknya erat.

“Eottae? Masih mau lanjutkan? Mungkin saja, setelah kau menonton film ini maka kau benar-benar melihat hantu…” kata Seung Ho dengan nada menakut-nakuti.

“Andwae! Andwae! Andwae! Keumanhaeee, jebaalll!! Geurae, aku kalah!! YA!! Kau kan tahu aku paling tidak bisa ditakut-takuti, neo nappeun namja!!” teriak Jiyeon kesal, dengan posisi masih memeluk Seung Ho.

“Geurae, tapi… Aku tidak mau hadiah uang, aku mau yang lain,” kata Seung Ho sambil tersenyum senang.

“Mwo?? Geundae, matikan dulu filmnyaaa!!”

“Nanti saja, tidak sekarang. Geurae, aku matikan. Kita nonton yang lain saja,” kata Seung Ho sambil mematikan dvd playernya. Akhirnya Jiyeon melepaskan pelukannya.

“Asal jangan film horror lagi!” kata Jiyeon sambil bergidik takut.

“Geurae, apa saja kan? Asal jangan film horror. Joa,” kata Seung Ho sambil mengambil kotak koleksi DVD miliknya.

“Igee!! Nonton ini saja,” kata Seung Ho sambil mengambil sebuah DVD, lalu memasukkannya ke dalam DVD player nya.

“Musun yonghwa?” tanya Jiyeon penasaran.

“Lihat saja. Aku diberikan DVD ini oleh Heechul, tapi sebenarnya aku tidak terlalu suka nonton film seperti ini. Tapi mungkin kau suka,” kata Seung Ho, lalu kembali duduk di sebelah Jiyeon.

***

Beberapa jam kemudian …

“Im Chae Ri!!” teriak seorang namja sambil mengejar-ngejar seorang yeoja yang sangat ia cintai. Karena merasa dipanggil, yeoja itu menoleh ke belakang. “Cho Kyu Hyun…” yeoja itu menatap namja yang kini berhenti dan berdiri di depannya. Namja bernama Kyu Hyun itu langsung memeluk Chae Ri erat. “Chae Ri ah, mianhae.. Kajima, jebal.. Saranghae, Chae Ri ah.. Nan, nan niga joahae. Jebal, jangan pergi, dari sisiku. Niga animyeon andwae..” kata Kyu Hyun sambil menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya. “Kyu Hyun ah.. Na… Nado saranghae,” kata gadis itu, lalu tak lama ia menangis dan memeluk Kyu Hyun erat. “Mianhae, jeongmal mianhae Chae Ri.. Jangan membenciku,” bisik Kyu Hyun. “Aku tidak bisa membencimu,” gadis itu melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Kyu Hyun. Tangan Kyu Hyun terangkat lalu memegang kedua pipi Chae Ri yang basah, Kyu Hyun mendekat dan …

“Yoo Seung Ho,” kata Jiyeon tiba-tiba ketika Chae Ri dan Sang Hyun berciuman.

“M… mwo?”

“K… keuge…”

“Wae? Kau ingin aku menciummu?” tanya Seung Ho yang membuat jantung Jiyeon tiba-tiba ingin copot.

“YAA!! J… jagnan hajima!! K.. keuge… Haah, dwaesseo! Lupakan saja!”

“Ya, marhaebwa. Tadi kau mau mengatakan apa?”

“Eopseo!”

“Lalu kenapa memanggilku?”

“Molla!”

“Kau teringat peristiwa yang kemarin ya?”

“Musun so…” tiba-tiba kalimat Jiyeon terhenti, karena dirinya langsung teringat peristiwa kemarin di sekolah. “A… aniya!” seru Jiyeon cepat.

“Kau ingin aku melakukannya lagi?” Seung Ho menatap Jiyeon dengan wajah serius.

“Y.. YAAA!!” teriak Jiyeon, mukanya sedikit memerah.

“Ani, aku hanya bercanda, haha haha,” katanya sambil tertawa.

“Jam berapa sekarang?” tanya Jiyeon.

“Jam 10, kau sudah ngantuk?”

“Aniyo… Kau bagaimana?”

“Mm, tidak sama sekali,” kata Seung Ho lalu kembali memfokuskan dirinya pada film.

“Filmnya sudah sampai mana?” tanya Jiyeon bingung, karena tadi dirinya sempat tak melihat ke televisi.

“Sampai Kyu Hyun dirawat di rumah sakit,”

“Kenapa bisa dirawat?”

“Karena kakinya patah lalu di amputasi.”

“Mwo???”

“Anii, tidak di amputasi. Hanya tulangnya yang patah, hahaha.”

“Kenapa bisa patah?”

“Karena menyelamatkan Chae Ri yang hampir tertabrak bus.”

“Kasihan sekali Sang Hyun.”

“YA! Kenapa mengasihani dia? Dia kan hanya pura-pura, maksudku, itu kan hanya film.”

“Wajar kan kalau aku terhanyut dalam film?”

“Terserah kau saja. Dasar pabo.”

***

“Yak, yeoja pabo! Filmnya sudah selesai,” kata Seung Ho seraya mengguncang tubuh Jiyeon pelan. Namun Jiyeon sama sekali tak bergerak. Seung Ho kembali mengguncang pundak Jiyeon.

“Hei.. Kau tidak mati kan?” tanya Seung Ho memastikan. Namun tetap tidak ada jawaban. “Hyaa! Jawab aku! Bilang kalau kau sudah mati! Setidaknya, katakanlah kalau kau sedang tidur! Aish,” tiba-tiba Seung Ho jadi merasa frustasi sendiri. “Orang sedang tidur mana bisa menjawab ya?” gumam Seung Ho pada dirinya sendiri.

Gadis itu tertidur rupanya. Seung Ho memandang wajahnya, dia sungguh manis dan polos. Entah kenapa Seung Ho jadi sangat suka memandanginya.

Tanpa ia sadari, tangannya terangkat lalu mengelus lembut rambut Jiyeon. Ketika melihat wajahnya seperti itu, hatinya rasanya ingin sekali berhenti mengganggunya, dan hatinya ingin berjanji akan selalu membuatnya tersenyum. Tapi, apakah itu mungkin?

♥Seung Ho’s POV♥

Aku sendiri tak tahu apa alasanku mengganggunya selama ini. Entah hanya untuk kesenangan semata, atau… Aku ingin bisa sering dekat dengannya? Aku masih tidak mengerti dengan hatiku sendiri. Terkadang aku membenci diriku sendiri, ketika aku melihat raut wajahnya yang kesal karena ulahku. Tetapi aku tidak tahu harus bagaimana. Aku ingin berhenti membuatnya kesal, aku ingin mulai membuatnya tersenyum. Tetapi, aku tidak yakin apakah aku bisa. Aku ingin bersikap lembut padanya. Tetapi ada hal yang kutakuti. Aku takut, dia juga akan membenci sikap lembutku. Aku takut dia tidak memaafkanku karena memang aku terlalu sering menjahilinya. Aku takut… Dia benar-benar menyukai Min Ho. Aku sangat takut kalau aku mengetahui kenyataan bahwa Jiyeon tak pernah memandang aku, hanya Min Ho yang ada dimatanya. Aku takut, sangat takut.

***

Dua jam kemudian …

“Yoo Seung Ho…”

Suara lembut itu menyebut namaku, sehingga aku langsung terbangun dari tidurku. Kubuka mataku perlahan. Aku melirik Jiyeon. Sepertinya dia baru terbangun dari tidurnya, dia masih setengah sadar. Tapi jujur saja, aku sangat senang karena tadi Jiyeon menyebut namaku. Aku hanya tersenyum sendiri, lalu mengelus rambut Jiyeon lembut.

“Seung Ho ah, filmnya sudah selesai?” tanya Jiyeon dengan nada mengantuk.

“Sudah dari tadi, ini sudah jam… Setengah satu,” kataku sambil melirik jam.

“Setengah satu!?”

♠Jiyeon’s P.O.V.♠

“Setengah satu!?” tanyaku tak percaya, lalu melirik jam dinding. Benar, memang jam setengah satu.

Sejak bangun tadi, aku merasa ada yang salah dengan jantungku. Aneh, sejak tadi jantungku sungguh berdebar-debar, apa lagi ketika aku merasakan ada yang mengelus rambutku lembut, rasanya jantungku seperti mau lepas. Dan juga, aku merasa nyaman tidur di pundak Seung Ho. Anehnya, Seung Ho tidak marah aku tidur di pundaknya. Aku saja tidak sadar kenapa aku bisa tidur di pundak Seung Ho.

“Jiyeon-aa, kau lapar?” tanya Seung Ho.

“Mm, jeongmal…” kataku sambil memegangi perutku yang kelaparan.

“Mau makan es krim? Aku punya satu,” kata Seung Ho lalu mengambil es krim yang tadi ia simpan di lemari es di kamarnya.

“Ani, untuk kau saja. Gwaenchanha,” kataku.

Seung Ho lalu duduk di sebelahku dan membuka cup es krimnya. “Makan berdua,” kata Seung Ho lalu menyuapiku es krimnya. “Gomawo,” kataku pelan. Tetapi tiba-tiba Seung Ho malah tertawa. “Mwo ya!?” tanyaku heran. “Neo kyeopta,” kata Seung Ho lalu tersenyum.

Dia… dia mendekati wajahku sampai jaraknya hanya sekitar 5cm. Aku hanya bisa mematung, dadaku berdebar-debar. Seung Ho, perlahan dia mengelap bibirku dengan jempolnya. Jantungku hampir mau lepas rasanya. Tetapi, dua detik kemudian, selesai sudah. Aku berusaha menenangkan jantungku yang berdetak-detak sungguh cepat.

“Park Jiyeon,” kata Seung Ho. Dia tidak menjauh, masih dalam posisi yang sama seperti tadi. Kalau begini, bagaimana bisa aku menenangkan jantungku? Yang ada, detak jantungku malah tambah cepat.

Dia menatap mataku lekat, lalu dia menggenggam kedua tanganku. Aku benar-benar lupa bernafas, karena perlahan Seung Ho makin mendekat sampai jarak wajahku dengannya tinggal 1cm, lalu … Dia tertawa terbahak-bahak!

♠Author’s P.O.V.♠

“YAA, Park Jiyeon! Mukamu begitu merah seperti kepiting rebus!” tawa Seung Ho meledak.

“Mwo!? YA! Mwo ya!?” Jiyeon memelototi Seung Ho kesal.

“Ya, Park Jiyeon! Kau menyukaiku ya?” tanya Seung Ho masih sambil tertawa.

“Mwo ya!? Ani! Aku tidak suka namja sepertimu!”

“Jinjja? Lalu kenapa tadi wajahmu merah begitu?”

“Merah? Ani!”

“Geotjimal, aku melihatnya sendiri. Kalau kau tidak menyukaiku, wajahmu tidak akan merah begitu.”

“Ani! Wajahku tidak akan pernah merah karena dirimu, Yoo Seung Ho!”

“Jinjjaaa? Kalau aku sampai bisa membuat wajahmu merah?”

“G… geurae… Aku, aku akan… Memberimu seribu won!”

“Seribu won, geurae!”

~Chu~

DEG! Tiba-tiba saja Jiyeon bagaikan tersengat listrik berkekuatan super. Jantungnya berdetak sungguh-sungguh kencang. Seung Ho benar, Seung Ho telah berhasil membuat wajah Jiyeon memerah. Satu ciuman manis tiba-tiba saja mendarat di bibir Jiyeon.

“Yoo Seung Ho…” ucap Jiyeon pelan.

“Wajahmu memerah,” kata Seung Ho pelan, ternyata bukan hanya wajah Jiyeon-aang memerah, bahkan Seung Ho juga.

“Yoo.. Seung Ho, annyeonghi jumuseyo,” kata Jiyeon lalu berlari keluar kamar Seung Ho dan masuk ke kamarnya. Setelah menutup pintu, tubuh Jiyeon merosot ke lantai. Jiyeon memegangi dadanya yang berdebar-debar. Apa maksud dari semua ini? Yang kemarin, dan yang barusan…

★★★

Satu bulan kemudian …

♠Jiyeon’s P.O.V.♠

Tak terasa, sudah satu bulan semenjak hatiku mulai menyadari perasaanku terhadap si Yoo Seung Ho bodoh itu. Setelah kejadian itu, keesokan harinya hubunganku dengan Seung Ho biasa saja, seperti tidak ada yang pernah terjadi. Namun, semakin hari terlihat jelas perubahan sikap Seung Ho. Seung Ho jarang menjahiliku lagi, walaupun gaya bicaranya masih kasar dan dia masih sering memanggilku otak serangga. Aku senang dengan Seung Ho yang sekarang. Setiap hari biasanya aku berangkat ke sekolah dan pulang ke rumah bersama Seung Ho. Bahkan teman-teman sekelasku mengira kalau kami sudah berpacaran, padahal tidak. Setiap hari libur, biasanya aku dan Seung Ho hanya sekedar jalan-jalan atau makan bersama. Ternyata Seung Ho tidak buruk. Walaupun kasar diluar, tetapi sebenarnya Seung Ho orang yang lembut. Sudah sekitar lebih dari lima tahun aku mengenalnya, tetapi baru sekarang aku menyadari kalau Seung Ho orang yang sangat baik. Dia tidak seburuk yang kupikirkan pada awalnya.

Eomma ku dan Sang Hyun juga mengira kalau aku dan Seung Ho berpacaran. Aku selalu menyangkal, tetapi mereka tak pernah mau mempercayai kata-kataku. Ah ya, aku juga sudah tidak pernah memikirkan Min Ho, pangeran yang sering kupuja-puja sejak aku kelas 1 SMA. Sekarang dia sudah punya pacar, namanya Shin Mae Ri, dia sahabatku. Mae Ri tidak tahu kalau aku juga menyukai Min Ho. Dan aku senang mereka berpacaran, ya walaupun aku sempat merasa sedikit sedih. Mungkin karena Seung Ho, ketika mendengar kabar tentang Min Ho dan Mae Ri, aku tidak terlalu terkejut. Entahlah, sepertinya aku tidak lagi menyukai Min Ho. Sekarang, yang kusukai adalah … Yoo Seung Ho?

“Jiyeon-aa, kenapa melamun?”

Ternyata sejak tadi Seung Ho sedang memperhatikan diriku yang sedang melamun, sambil menatap keluar jendela kamar Seung Ho. Aku jadi sering main di kamar Seung Ho, main games di PSP atau nitendo nya, atau sekedar belajar bersama. Sebulan terakhir ini hubunganku dengan Seung Ho menjadi sangat dekat. Aku dan Seung Ho tidak berperang lagi, kami sudah damai walaupun tak ada satupun dari kami yang mengucapkan kata damai. Tetapi itu sudah jelas, bahkan sepertinya kami bisa di bilang bukan hanya sekedar teman. Eomma dan teman-temanku yang bilang begitu, aku dengan Seung Ho sudah terlihat seperti lebih dari teman. Aku sendiri tidak tahu, apakah memang begitu?

“Ani,” kataku pelan tanpa mengalihkan pandanganku ke luar jendela.

“Bosan?”

“Mm, jogeum,” kataku lalu menoleh ke arahnya.

“Sekarang jam berapa?” tanyanya. Aku melirik jam tanganku.

“Oh, sudah jam lima sore. Aigoo, kau sudah makan?”

“Aiish, dasar otak serangga. Tentu saja belum, sejak tadi aku ada disini bagaimana mau makan? Ya, apa yang sedang kau pikirkan? Sudah satu jam kau melamun,” kata Seung Ho dengan nada heran.

“Jinjjaaa? Aku tidak tahu aku melamun sudah selama itu,” kataku karena memang benar, kupikir aku melamun hanya sekitar sepuluh menit. Ternyata sudah satu jam.

“Ck ck, ya! Kau mau makan?”

“Makan apa?”

“Di restaurant milik Heechul lagi?”
“Ya! Aku sudah bosan setiap hari kesana.”

“Bukankah kau yang selalu mengajak makan kesana?”

“Ne, geundae, hari ini jangan ke sana lagi!”

“Lalu?”

“Terserah kau saja.”

“Baiklah, jam tujuh nanti ke namsan tower. Tetapi jangan telat seperti waktu itu lagi. Ah ya, ini sebagai ganti kencan pertama kita yang gagal satu bulan lalu. Jadi ingatlah, ini first date kita. Joa?” dia bicara panjang lebar, lalu akhirnya dia mencubit pipiku.

“Yaa!! Apheo!!” protesku kesal karena dia selalu saja melakukan ini padaku.

“Geuraeee, annyeong Park Jiyeonaaa!!” Seung Ho mendorongku keluar dari kamarnya, lalu dengan cepat menutup pintu.

“Nee!! Annyeong!!” teriakku dari depan pintu, lalu masuk ke kamarku.

Aku membanting tubuhku ke tempat tidur, lalu sudut-sudut bibirku terangkat. Entah kenapa saat Seung Ho mengajakku pergi tadi, aku sangat-sangat senang. Apa lagi ketika Seung Ho bilang kalau itu kencan pertama kita. Aku tidak pernah menyangka akan jadi seperti ini. Dulu, satu sekolah pun tahu, kalau Park Jiyeon dan Yoo Seung Ho adalah musuh bebuyutan, dan setiap Jiyeon dan Seung Ho bertemu, tidak mungkin kami tidak bertengkar atau saling mengejek. Aku tidak pernah menyangka, pada akhirnya aku dan Seung Ho malah jadi seperti ini.

***

Jam setengah tujuh …

Aku tidak tahu kenapa aku malah datang lebih awal. Mungkin karena aku takut terlambat seperti waktu itu, jadi aku datang lebih awal. Hasilnya? Aku harus menunggu Seung Ho disini selama satu jam. Tak apalah, daripada aku terlambat lagi.

Aku menyandarkan tubuhku ke sandaran kursi. Sejak tadi aku memegangi ponselku, aku ingin mengirimi Seung Ho pesan, tetapi aku masih ragu. Ah, sebaiknya aku mengiriminya dia pesan saja. Tetapi, aku harus menulis apa? Ah, molla! Tiba-tiba ponselku berdering nyaring. Semoga saja itu Seung Ho! Tanpa melihat layar ponselku, aku langsung menekan tombol answer.

“Yeoboseyo?… Oh? Min Ho ssi? Waeyo? MWO??? Ne!! Min Ho ssi, kidariseyo!”

Dengan cepat aku langsung menutup ponselku, lalu berlari pergi menuju … Rumah sakit.

***

♠Author’s P.O.V.♠

Seung Ho melirik jam tangan yang ia kenakan, masih jam tujuh kurang. Pantas saja Jiyeon belum datang, Seung Ho datang terlalu awal, mungkin karena terlalu bersemangat. Seung Ho akhirnya duduk di kursi lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi tersebut.

Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Dengan cepat Seung Ho meraih ponselnya, sambil berharap kalau yang menelepon adalah Jiyeon.

“Yeoboseyo?” kata Seung Ho setelah ia menekan tombol answer.

“Ya, Yoo Seung Ho!” teriak suara di seberang sana, tampaknya bukan suara Jiyeon. Tentu saja, itu suara seorang namja. Seung Ho lalu melihat layar ponselnya. Ah, itu Donghae.

“Yoo Seung Ho, bisa kau ke rumah sakit sekarang?”

“Mwo? Wae geurae?”

“Min Ho, tadi dia kecelakaan, dia dihadang oleh beberapa perampok sampai dia terluka. Dia dirawat di rumah sakit, tetapi aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Aku tidak bisa kesana, aku sedang ada di Incheon. Heechul sibuk membantu abeoji nya di restaurant. Min Hyuk, dia sedang merawat neneknya yang sakit. Key, kau tahu kan, dia sedang berlibur ke Amerika bersama orang tuanya. Dan kebetulan hanya kau yang bisa pergi kesana. Ppali, aku takut terjadi sesuatu pada uri Min Ho.”

“Mwo?? Ya!! Aku akan segera ke rumah sakit,”

“Dia ada di rumah sakit A, ruangannya kau tanyakan saja pada resepsionis.”

“Geurae,” kata Seung Ho cepat lalu menutup ponselnya.

✯✯✯

“Gomawo, Jiyeon. Kau mau menjagaku disini,” kata Min Ho sambil tersenyum

Jiyeon sendiri tidak mengerti. Sejak dulu Jiyeon sangat menginginkan saat-saat seperti ini, saat Jiyeon bisa dekat dengan Min Ho. Tetapi entah kenapa, Jiyeon merasa biasa saja ketika di dalam ruangan ini hanya ada dirinya dan Min Ho. Jiyeon tidak tahu, kenapa dirinya tiba-tiba seperti ini.

“Cheonmaneyo, Min Ho ssi,” jawab Jiyeon pelan.

“Min Ho ssi? Tidak bisakah kau memanggilku oppa?” tanya Min Ho.

“N… ne? O…oppa?”

“Ne, oppa. Jangan gunakan kalimat formal padaku,” kata Min Ho lalu mengacak-ngacak rambut Jiyeon. Jiyeon hanya membalasnya dengan senyuman.

“Jiyeon-aa…” ucap Min Ho pelan.

“Ne?”

“Kau… menyukai Seung Ho?” tanya Min Ho sambil menatap Jiyeon tajam.

Deg! Entah kenapa, hatinya mengiyakan kalau Jiyeon memang menyukai Seung Ho. Tetapi, Jiyeon masih bingung harus menjawab apa. Jiyeon tidak tahu, apakah dirinya masih menyukai Min Ho atau tidak. Tetapi sepertinya, Jiyeon memang tidak punya perasaan apapun lagi terhadap Min Ho. Tetapi Jiyeon juga tidak mungkin mengatakan kalau dirinya benar-benar menyukai Seung Ho.

“Jiyeon-aa?”

“Ah, ne.. A.. aniya, aku tidak menyukainya.”

“Geurae? Dahaengida,” kata Min Ho.

“N… ne?”
“Jiyeon-aa…” kata Min Ho sambil menghela nafas. “Kau tahu… tentang hubunganku dengan Mae Ri?”

“Mm, ara. Chukkahae oppa,” kata Jiyeon sambil tersenyum.

Min Ho menyingkirkan selimut yang dikenakannya, lalu duduk berhadapan dengan Jiyeon.

“Aku… Aku sudah putus dengan Mae Ri.”

“M.. Mwo!?”

“Mm.. Ada sesuatu yang kusadari saat aku berpacaran dengan Mae Ri.”

“Mwo ya?”

“Mae Ri, dia.. Dia menyukai mantan pacarnya. Dan aku… Aku menyukai Park Jiyeon.”

“N.. ne?” tanya Jiyeon tak percaya.

“Aku menyukaimu, Park Jiyeon. Sejak dulu aku takut mengakuinya, karena kupikir kau menyukai Seung Ho. Tapi kau tahu? Aku sangat senang karena ternyata kau tak menyukai Seung Ho. Kau juga menyukaiku kan? Kau selalu memperhatikanku di kelas, sejak kelas 1 SMA. Iya kan?”

“Oppa…” ucap Jiyeon pelan.

“Geurae, arasseo.. Kau menyukai Seung Ho,” kata Min Ho cepat dan langsung membuat Jiyeon terkejut. “Seung Ho sangat kesal. Ekspresinya benar-benar kesal tadi. Mianhae, ini salahku,” lanjutnya.

“Ne!?”

“Seung Ho mendengar percakapan kita, sejak awal. Dan dia baru saja pergi. Sejak tadi dia ada di depan pintu. Ekspresinya benar-benar kesal. Mianhae, ini salahku. Kau menyukai Seung Ho, aku telah menyadari itu, sepertinya,” kata Min Ho dengan perasaan bersalah.

“Ani oppa.. Kau tidak salah.. Aku… Aku sendiri baru sadar, perasaanku terhadap Seung Ho. Aku menyukainya. Mianhae, oppa…”

“Mm, gwaenchanha. Sekarang… Kejarlah dia,” kata Min Ho tulus.

“Jeongmal kamsahamnida, oppa,” kata Jiyeon. Jiyeon lalu berdiri dan menunduk, lalu dengan cepat Jiyeon keluar dari ruangan tempat Min Ho dirawat.

“Mae Ri yaa, Donghae yaa, Min Hyuk yaa, semuanyaa.. Keluarlah dari tempat persembunyian kalian!” seru Min Ho. Lalu tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Mae Ri, Dong Hae, Min Hyuk, dan yang lainnya keluar dari persembunyian mereka.

“GYAHAHAHA! Akhirnya Jiyeon menyatakan perasaannya! GYAHAHAHA!” seru Heechul seraya tertawa-tawa. “Chagi, aktingku bagus kan?” tanya Min Ho membanggakan dirinya. Mae Ri mengacungkan jempolnya. “Hei, kita kejar mereka saja. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan mereka…”

✿✿✿

Hujan turun dengan derasnya. Jiyeon terus berlari tanpa mempedulikan hujan yang terus mengguyurnya sampai seluruh tubuhnya basah kuyup. Yang ia pikirkan sekarang hanya Seung Ho, Yoo Seung Ho.

“Seung Ho jamkkanman!!” teriak Jiyeon terengah-engah. Dari rumah sakit, Jiyeon berlari secepat mungkin sampai akhirnya ia bisa menyusul Seung Ho. Seung Ho memang tampak sangat kesal, dia berlari sangat sangat cepat.

“Seung Ho ya…” kata Jiyeon pelan, sambil menatap punggung Seung Ho. Seung Ho berbalik menghadap Jiyeon.

“Mwo ya?”

“Tadi kau… Ada di rumah sakit?”

“Ne,” jawabnya singkat dengan nada dingin.

“K… keuge…”

“Arasseo. Kau menyukai Min Ho, dan Min Ho juga menyukaimu. Kau tak perlu memberi tahu apapun lagi padaku. Aku sudah mendengar semuanya. Chukkahae,” dia menatap Jiyeon dingin, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Jiyeon.

“Keuge anira! Yoo Seung Ho!” teriak Jiyeon. Seung Ho kembali berbalik menghadap Jiyeon.

“Mwo ya!?”

“Nan.. Nan niga joahae!!”

Seung Ho berjalan mendekat ke arah Jiyeon. Jiyeon langsung berteriak. “Arasseo! Nan ara, kau tak menyukaiku. Seharusnya aku sadar sejak dulu, kau tak  pernah menyukaiku, karena itu kau selalu membenciku dan membuatku kesal! Tetapi kau tahu? Aku menyukaimu, Yoo Seung Ho! Aku menyukaimu walaupun kau membenciku! Jebal, jangan pernah memberikanku ucapan selamat seperti itu! Bukan Min Ho oppa, Seung Ho oppa! Yang aku sukai itu Seung Ho oppa! Aku tahu kau benci padaku, karena aku selalu saja membuatmu susah. Kau ingat, aku pernah membuat pialamu pecah saat aku pertama kali aku bertemu denganmu. Aku tahu kau sangat marah dan tak akan bisa memaafkanku. Piala itu sangat berharga bagimu kan? Itu piala pertamamu! Dan kau boleh membenciku! Hajiman, nan niga joahae!” teriakan Jiyeon berhasil mengalahkan derasnya suara air hujan yang mengguyur kota Seoul malam ini.

“Ya! Aku telah melupakan kejadian lima tahun lalu itu, Park Jiyeon! Kalau aku membencimu, apa aku akan melakukan ini?”

*Chu* Seung Ho langsung mencium bibir Jiyeon lembut. Tangan Seung Ho langsung memeluk Jiyeon. Mereka berciuman dan berpelukan di tengah hujan, dan tak peduli walaupun ada beberapa orang yang sedang memperhatikan mereka berdua seraya terkikik.

Tak lama, Seung Ho sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Jiyeon. “Saranghae, mianhae,” bisik Seung Ho lembut. “Nado saranghae,” balas Jiyeon. “Saranghae, chagiya…” kata Seung Ho lagi lalu mengeratkan pelukannya. Mereka melupakan hujan yang masih mengguyur dengan derasnya, dan juga melupakan orang-orang yang berkerumun menyaksikan Jiyeon dan Seung Ho.

Kalian tahu? Benci dan cinta itu perbedaannya tipis. Jadi, kalau kau membenci seseorang, kau juga harus bersiap bila suatu ketika kau akan mencintainya. (:

*END*

WAH! APA INI!? ABAL? BANGET! JELEK? BANGET!!!! Tapi walaupun jelek, ngerjainnya juga cape dan menguras tenaga ): comment yaa (:

“Belajarlah menghargai karya orang lain, jika kalian ingin dihargai. Karena kita tak akan dihargai kalau kita tidak pernah menghargai.” –Cherry Anastasia

Kalo ada yang kesulitan comment, kirim comment ke fb aku aja : Anastasia Cho atau twitter : @CherryAnas82

Kamsahamnida ^^

About these ads

55 gagasan untuk “Hate You, Love You 2/2”

  1. happy ending..
    whooaa kereenn.. walapun telat banget baca ffnya tapi chukae to thor yang hebat ini..
    suka sama karakter jiyeon n seungho…

  2. wah keren cerita ff’a
    gk rugi aku baca cerita kamu

    bikin cerita sengho jiyeon lagi yah yang lebih menerikn:)
    kalau aja ada film nya makin seru nih :)

  3. yahahahah .. ternyata si minho akting doang ???
    wessssss,, romantis !!
    saling menyatakan cinta dan ciuman di tengah hujan ???
    aigoooo …

  4. KEREN…….
    udah lama nyari ff yeonho couple….akhirnya ktemu jga…
    q ska ff.a…
    apalagi heechul oppa disni msih sma..hihi ktwa mlu inget dsni heechul sklah.a brg ma jiyeon pdahal beda 10thn…

    trus bwt ff yeonho couple ya….

  5. kyaaaa…sukaaaaa bangeeettt so sweeet…
    Annyeong,,, author#bingung ni mau manggil eoni takut di blg SKSD
    Salam kenal new reader…
    Beruntungnyaaa nemu blog ini,,
    kereeeen alur ceritanya gak membosankan,,
    Kebetulan shipper jiyeon n seung ho,,

  6. kerennnn ,, aq suka cast sama jalan critanya.. seungji couple emang daebakk dehh ,, buat authornya jangan bosen” yahh buat ff yg castnya seungji.. ^^

  7. omo,omo aq suka bnget sma endingnya onnie , like this ,haha :D >3..suka bnget sma ceritanya, sedih+lucu+romantis (campur aduk dakh pokoknya) daebak—

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s